Selasa, 29 September 2026

HUKUM ISTRI MEMANGGIL SUAMI DENGAN NAMA ASLI

HUKUM ISTRI MEMANGGIL SUAMI DENGAN NAMA ASLI



Berkaitan dengan hukum seorang istri memanggil suaminya dengan nama aslinya, salah satu ulama dari kalangan mazhab Hanafi bernama Ibnu Abidin, menjelaskan bahwa makruh hukumnya bagi seorang istri memanggil suaminya dengan menyebut nama aslinya. 

Sebagai gantinya, ia dianjurkan menggunakan panggilan yang mengandung penghormatan, seperti “ya sayyidi” dalam bahasa Arab yang bermakna wahai tuanku, atau bisa berarti “Mas”, “Kakak”, dan lainnya dalam bahasa Indonesia. 

Anjuran untuk memanggil suami dengan panggilan yang menunjukkan penghormatan dalam hal ini menurut Ibnu Abidin tidak berarti bermakna menyucikan orang yang dipanggil (tazkiyah), tetapi sebagai bagian dari adab seorang istri kepada suami yang dalam hal ini memiliki kedudukan lebih tinggi daripada istri. seyogianya suami dan istri memanggil pasangannya dengan nama atau panggilan yang paling disukainya, baik suami kepada istri maupun istri kepada suami. 

Hal ini merupakan bagian dari bergaul dengan baik bersama pasangan (husnul mu’asyarah). Pada sisi lain, tidak ada salahnya seorang suami memanggil istrinya dengan nama aslinya, demikian pula seorang istri dapat memanggil suaminya dengan nama yang telah menjadi kebiasaan di antara mereka, selama tetap menjaga adab dan tidak bermaksud merendahkan. 

Tidak ada masalah seorang suami memanggil istrinya dengan nama aslinya, terutama jika itu merupakan panggilan yang biasa digunakan di antara keduanya.

 Akan tetapi, di hadapan anak-anak, akan lebih baik apabila ayah dan ibu juga membiasakan panggilan yang menunjukkan penghormatan, seperti “Ibu”, “Mama”, “Ummi”, “Ayah”, “Abi”, atau panggilan baik lainnya. 

Namun khusus bagi istri yang memanggil suaminya dengan nama aslinya secara langsung, sebagian ulama dari kalangan mazhab Hanafi, sebagaimana disampaikan Ibnu Abidin, menghukuminya makruh. 

Sebagai gantinya, istri dianjurkan menggunakan panggilan yang menunjukkan penghormatan, seperti “Mas”, “Kakak”, atau panggilan lain yang semakna dengannya.

Penulis: Edi Saputra, S.PdI.,Gr.
Sumber Referenai: nuonline.id

AKGTK MADRASAH 2026

AKGTK MADRASAH 2026

Berdasarkan Surat Edaran Resmi Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kemenag dan panduan teknis operasional aplikasi ujian, berikut adalah rincian prosedur pelaksanaan serta panduan instalasi sistem yang wajib Anda ikuti: 
1. Ketentuan Peserta & Jadwal Validasi
  • Syarat Utama: Guru, Kepala Madrasah, Pengawas, serta Tenaga Kependidikan (Laboran & Pustakawan) aktif dengan kualifikasi pendidikan minimal D4/S1 yang terdata di EMIS GTK Kemenag. 
  • Akses Kredensial (Mulai 19 September 2026): User ID (email) dan password ujian beserta jadwal detail masing-masing peserta dapat dicek di portal EMIS GTK melalui jalur menu: Peta Situs ➡️ Panduan Flow ➡️ gulir ke bawah dan klik Lihat Akun AKGTK. 
  • Agenda Simulasi (Uji Coba): Wajib diikuti oleh seluruh peserta pada 19–20 September 2026 guna menguji validitas akun dan kesiapan perangkat laptop/komputer. 

2. Panduan Teknis & Instalasi Aplikasi (Safe Exam Browser / SEB)
Ujian AKGTK dilaksanakan menggunakan sistem Computer Based Test (CBT) yang dikunci oleh aplikasi keamanan Safe Exam Browser (SEB) untuk menjaga integritas asesmen. 
  • Langkah 1 (Unduh Installer): Download aplikasi SEB sesuai petunjuk resmi Kemenag melalui tautan panduan akgtk2026SEB. 
  • Langkah 2 (Instalasi): Pasang berkas SEB Setup Bundle pada komputer/laptop yang akan Anda gunakan saat ujian. 
  • Langkah 3 (Unduh Konfigurasi): Setelah SEB terpasang, unduh file konfigurasi khusus ujian AKG yang disediakan. Ekstrak file tersebut, lalu untuk mempermudah akses, klik kanan ➡️ Show more options ➡️ Send to Desktop. 
  • Langkah 4 (Membuka Ujian): Klik dua kali pada shortcut konfigurasi di desktop Anda. Sistem akan meminta kata sandi pengunci. Masukkan password: akg (menggunakan huruf kecil semua) lalu klik Confirm. 

3. Aturan Keamanan Sistem saat Ujian Berlangsung
  • Sterilisasi Perangkat: Sebelum membuka aplikasi SEB, Anda wajib menutup semua aplikasi lain yang sedang berjalan di latar belakang komputer (seperti browser umum, aplikasi perekam layar, atau aplikasi komunikasi). 
  • Deteksi Otomatis: Sistem SEB akan mengunci layar secara penuh. Jika peserta kedapatan mencoba keluar atau mengakses jendela browser lain, sistem otomatis mendeteksinya sebagai indikasi kecurangan. 
  • Lokasi Ujian (TAK): Meskipun pengecekan akun dilakukan mandiri melalui EMIS, lokasi fisik Tempat Asesmen Kompetensi (TAK) resmi akan diverifikasi dan diumumkan oleh Kantor Kemenag Kabupaten/Kota masing-masing. 
REFERENSI SOAL AKG MI MTs dan MA

Bagi yang mengikuti AKGTK tahun 2026 dapat mempelajari prediksi soal dan pembahasannya pada tiap jenjang pada link berikut ini dan silahkan untuk didownload:
1. AKGTK MI: https://drive.google.com/drive/folders/1qQ_UCfqOxRO5IIM3YKjx_lqfclKChwMt
2. AKGTK MTs: https://drive.google.com/drive/folders/1OrbO--wyNNuSPSPTT9Fr1o_COLYAm7a7
3. AKGTK MA: https://drive.google.com/drive/folders/1yEyyINBVKhjuINKhYNrfsu39iA-HfIXR
4. CONTOH SOAL LATIHAN AKGTK MATERI PEDAGOGIK
https://drive.google.com/file/d/1BUu8qHzZJtnHESIVbbg1A2vgEAX7FhfO/view?usp=sharing

5. LATIHAN SOAL AKG KEPALA MADRASAH RA, MI, MTs dan MA
https://drive.google.com/file/d/10BBNoAMUVd2GrDUdXuLHVnwVaXnqlDuf/view?usp=sharing

Ditulis oleh: Edi Saputra, S.PdI., Gr., M.Pd.(can)

Rabu, 16 September 2026

Ngopi Isuk

Ngopi Isuk

ويح ابن آدم كيف يزهو وإنما هو جيفة يؤذي من مر به ابن آدم من ابتراب وإليه المسير (رواه الديلمى)

Ini adalah *tamparan* terhadap kesombongan manusia: tubuh yg dibanggakan berasal dari tanah, akan kembali ke tanah, dan bila ruh telah pergi, jasad yang dipuja itu justru menjadi sesuatu yang harus segera diurus.
Teks:
وَيْحَ ابْنِ آدَمَ، كَيْفَ يَزْهُو؟ وَإِنَّمَا هُوَ جِيفَةٌ يُؤْذِي مَنْ مَرَّ بِهِ. ابْنُ آدَمَ مِنَ التُّرَابِ خُلِقَ، وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ.
Pengertiannya kurang lebih: 
“Celakalah/duhai anak Adam, bagaimana mungkin ia menyombongkan diri? Padahal ia hanyalah bangkai yang akan mengganggu orang yang melewatinya. Anak Adam diciptakan dari tanah, dan kepadanya (tanah) tempat kembali.”

Ada beberapa lapis makna yang menarik dari teks di atas.

_Pertama_, كَيْفَ يَزْهُو؟  “bagaimana ia bisa berbangga dan membusungkan diri?” Kata yazhū (يزهو) bukan sekadar merasa senang, tetapi menunjuk pada kebanggaan diri yang membuat seseorang melihat dirinya “lebih”: lebih mulia, lebih berkuasa, lebih alim, lebih kaya, atau lebih berpengaruh. Pertanyaan  mendasarnya: "atas dasar apa engkau membesarkan dirimu?"

_Kedua_, وَإِنَّمَا هُوَ جِيفَةٌ merupakan pembongkaran ilusi jasmaniah. Bukan berarti Islam merendahkan martabat manusia. Justru manusia dimuliakan Allah. Yang dihancurkan adalah kesombongan yang bersandar pada tubuh, kedudukan, penampilan, dan atribut duniawi. Tubuh tanpa ruh akhirnya kehilangan segala kemegahannya.

_Ketiga_, مِنَ التُّرَابِ خُلِقَ وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ membentuk semacam lingkaran eksistensial:
تراب ← إنسان ← تراب
tanah → manusia → tanah.
Di antara dua tanah itulah manusia diberi kesempatan untuk mengisi hidupnya dengan عبودية dan خدمة: penghambaan dan khidmah. Maka yang menentukan kemuliaan itu bukan “dari apa tubuh kita”, melainkan apa yang kita lakukan selama perjalanan di antara dua tanah itu.

Dalam perspektif tasawuf, dhawuh ini lebih tajam lagi. Yang sebenarnya sedang dibunuh bukan tubuh, melainkan “aku”. Ketika seseorang berkata dalam batinnya: aku alim, aku pemimpin, aku berjasa, aku paling berhak, organisasi ini karena aku, maka dhawuh ini menjawab:
كَيْفَ يَزْهُو؟
Dengan apa engkau masih membusungkan dada?
Karena itu ia sangat dekat dengan pendidikan tawadhu‘. Bukan تذلل merendahkan martabat diri melainkan menyadari bahwa segala yang ada pada diri adalah amanah, bukan kepemilikan mutlak.
Bahkan saya menangkap satu pesan yang sangat relevan untuk kehidupan jam‘iyyah: jabatan adalah pakaian sementara, sedangkan tanah adalah tempat semua pangkat dilepaskan. Ketua, rais, kiai, pejabat, orang kaya maupun rakyat biasa akhirnya memasuki bumi dengan ukuran liang lahat yang hampir sama.
Maka dhawuh itu seakan dapat diringkas menjadi:
لا تفتخر بما سيتركك، ولكن افتخر بما يبقى لك عند الله.
Jangan membanggakan sesuatu yang kelak akan meninggalkanmu; perhatikanlah sesuatu yang tetap menjadi milikmu di sisi Allah.
Dan pada tingkat tasawuf yang lebih dalam: asal tubuh adalah tanah, tetapi arah ruh adalah Allah. Problem manusia muncul ketika ia membanggakan “tanahnya” dan melupakan perjalanan ruhnya.

Wallahu a'lam bisshawab

Kartasura, 16092026
Penulis Dr. Miftah Faqih
Pengurus PBNU

Disadur oleh: Edi Saputra, S.PdI.,Gr. (Rais Syuriah MWCNU Belalau)

Selasa, 15 September 2026

Betapa banyak orang yang bukan kerabat ternyata lebih baik daripada kerabat sendiri.”

Pic. Source: Al-Mukarram Al- Ust. Muhammad Demyati, M.Pd.,Gr.

Betapa banyak orang yang bukan kerabat ternyata lebih baik daripada kerabat sendiri.”

Atau secara lebih sederhana:

“Tidak sedikit orang asing yang lebih baik daripada keluarga sendiri.”

Ungkapan ini mengajarkan bahwa kedekatan hubungan darah tidak selalu menjamin kebaikan, kasih sayang, dan manfaat.

Maksudnya, terkadang kita menemukan seseorang yang tidak memiliki hubungan darah sama sekali, tetapi ia sangat tulus membantu, menjaga, menasihati, dan menyayangi kita. Sebaliknya, ada orang yang masih memiliki hubungan keluarga, tetapi tidak memberikan perhatian atau bahkan menyakiti.

Hal ini juga sejalan dengan ungkapan Arab yang dikenal:
رُبَّ غَرِيبٍ خَيْرٌ مِنْ قَرِيبٍ
“Betapa banyak orang asing yang lebih baik daripada kerabat.”

Pelajaran yang dapat diambil :
1. Jangan menilai seseorang hanya berdasarkan hubungan darah. Ukuran kemuliaan seseorang adalah akhlak dan kebaikannya.

2. Hargailah orang yang tulus berbuat baik kepada kita, meskipun ia bukan keluarga.

3. Tetap berbuat baik kepada keluarga, walaupun mungkin tidak selalu mendapatkan balasan yang sama.

4. Persahabatan yang dibangun atas keikhlasan dan kebaikan bisa menjadi lebih kuat daripada hubungan yang hanya berdasarkan keturunan.

5. Dalam kehidupan santri, seorang guru, ustaz, dan teman seperjuangan yang bukan keluarga secara nasab dapat menjadi orang yang sangat berjasa dan dekat di hati.
🙏🙏🙏🙏
Salam Ngopi Malam 🍜☕

By: Al-Mukarram Al-Ust KH. Anwar Sanusi, S.Pd.I.,Gr. 
(PP. Daarul Khair Kotabumi)

Disadur oleh: Al-Faqr Edi Saputra, S.PdI.,Gr.

Senin, 07 September 2026

Dari Tebuireng Menuju Nahdlatul Ulama: Jejak Pengabdian KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), Ketua Umum PBNU 2026–2031

Dari Tebuireng Menuju Nahdlatul Ulama: Jejak Pengabdian KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), Ketua Umum PBNU 2026–2031


Sosok Kiai di Persimpangan Tradisi, Pesantren, dan Zaman

Nama KH Abdul Hakim Mahfudz, yang lebih akrab disapa Gus Kikin, semakin mendapat perhatian luas setelah ditetapkan sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmat 2026–2031.

Penetapan tersebut berlangsung dalam rangkaian Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada 27–31 Agustus 2026.

Bagi banyak orang, terpilihnya Gus Kikin bukan sekadar pergantian kepemimpinan organisasi. Di balik sosoknya terdapat perjalanan panjang yang mempertemukan berbagai dunia: pesantren, keulamaan, pendidikan, dunia usaha, organisasi, hingga pengabdian kepada Nahdlatul Ulama.

Ia tumbuh dari lingkungan keluarga ulama, tetapi perjalanan hidupnya tidak hanya berlangsung di balik tembok pesantren. Ia pernah menempuh pendidikan formal, mengenyam pengalaman profesional, berkecimpung dalam dunia bisnis, dan kemudian kembali semakin dalam ke dunia pesantren hingga dipercaya menjadi salah satu tokoh penting NU.

Dari Tebuireng, salah satu pusat tradisi keilmuan Islam paling berpengaruh di Nusantara, Gus Kikin kini membawa amanah yang jauh lebih besar: memimpin PBNU selama lima tahun ke depan.

⚜️ Lahir dari Keluarga Ulama

KH Abdul Hakim Mahfudz lahir pada 17 Agustus 1958. Ia merupakan putra dari KH Mahfudz Anwar dan Nyai Hj. Abidah Ma'shum.

Sejak kecil, kehidupan Gus Kikin tidak dapat dipisahkan dari lingkungan pesantren. Pendidikan agama pertama-tama diperolehnya dari orang tua. Pada masa itu, keluarganya berada di lingkungan Pondok Pesantren Sunan Ampel, Jombang.

Lingkungan semacam inilah yang menjadi ruang pertama bagi Gus Kikin untuk mengenal agama, tradisi pesantren, adab kepada guru, kehidupan masyarakat, dan nilai-nilai ke-NU-an.

Namun menariknya, perjalanan pendidikannya kemudian tidak berjalan dalam pola yang sepenuhnya sama dengan banyak anak kiai yang sejak kecil hingga dewasa menempuh pendidikan di pesantren.

⚜️ Gus Kikin juga memasuki dunia pendidikan formal.

Ia bersekolah di SMP Negeri Jombang, kemudian melanjutkan pendidikan di SMA Negeri Jombang. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan ke Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta.

Perjalanan tersebut memberi warna tersendiri dalam pembentukan kepribadiannya. Tradisi pesantren yang diwarisi dari keluarga berpadu dengan pengalaman pendidikan formal dan kehidupan profesional yang kemudian dijalaninya.

⚜️ Tumbuh dalam Mata Rantai Keluarga Tebuireng

Dari garis keluarganya, Gus Kikin memiliki hubungan genealogis dengan lingkungan ulama besar Jombang, khususnya keluarga Tebuireng.

Ibunya, Nyai Hj. Abidah Ma'shum, berasal dari keluarga besar ulama Tebuireng. Melalui jalur keluarga tersebut, Gus Kikin memiliki hubungan dengan Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari, pendiri Nahdlatul Ulama sekaligus pendiri Pondok Pesantren Tebuireng.

Hubungan nasab dengan keluarga ulama tentu bukan sekadar kebanggaan genealogis. Dalam tradisi pesantren, hubungan keluarga juga membawa tanggung jawab moral untuk menjaga nilai-nilai yang telah diwariskan oleh para pendahulu.

KH Hasyim Asy'ari membangun tradisi keilmuan, kepesantrenan, kebangsaan, dan perjuangan yang kemudian menjadi salah satu fondasi penting dalam perjalanan Nahdlatul Ulama.

Karena itu, ketika Gus Kikin akhirnya dipercaya memimpin PBNU, terdapat kesinambungan sejarah yang menarik: seorang keturunan keluarga Tebuireng kembali mendapat amanah untuk mengabdi dalam organisasi yang dahulu didirikan oleh leluhurnya.

Namun amanah itu tentu bukan hanya tentang nama besar keluarga. Ia harus dibuktikan melalui kerja, pengabdian, kemampuan membaca zaman, serta kesediaan untuk melayani umat.

⚜️ Tidak Langsung Menjadi Kiai

Salah satu sisi menarik dari perjalanan hidup Gus Kikin adalah pengalaman profesionalnya sebelum sepenuhnya dikenal sebagai pengasuh pesantren.

Ia pernah memasuki dunia kerja dan profesional. Salah satu pengalaman pentingnya adalah ketika dipercaya menjadi kepala cabang wilayah Cilegon PT Djakarta Lloyd.

Selain itu, ia juga berkecimpung dalam dunia perdagangan komoditas, di antaranya pinang dan minyak atsiri.

Pengalaman tersebut membuat perjalanan hidup Gus Kikin memiliki spektrum yang cukup luas. Ia tidak hanya mengenal kehidupan pesantren dan masyarakat dari perspektif seorang kiai, tetapi juga memahami dinamika dunia usaha, profesionalisme, organisasi, dan ekonomi.

Dalam perjalanan berikutnya, Gus Kikin ikut mendirikan PT Energi Mineral Langgeng yang bergerak di sektor minyak dan gas bumi. Ia juga terlibat dalam pendirian PT Bama Berita Sarana (BBS Group) yang bergerak di bidang media penyiaran berjaringan.

Ia pun pernah terlibat dalam kepengurusan Kamar Dagang dan Industri (Kadin).

Pengalaman panjang di dunia usaha tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan hidupnya. Ia berhadapan dengan persoalan-persoalan yang berbeda dari dunia pesantren: bagaimana mengelola organisasi, membangun jaringan, memahami ekonomi, membaca peluang, dan mengambil keputusan.

Semua pengalaman itu kemudian menjadi bekal tersendiri ketika ia kembali semakin dekat dengan dunia pesantren dan organisasi keumatan.

⚜️ Kembali ke Tebuireng

Nama Gus Kikin semakin kuat dikenal publik pesantren ketika ia berada di lingkungan Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang.

Ketika KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) dipercaya menjadi pengasuh Tebuireng, Gus Kikin berada di sisi beliau sebagai wakil pengasuh.

Posisi tersebut membuatnya semakin dekat dengan dinamika kehidupan pesantren sekaligus memperluas pengalamannya dalam mengelola lembaga pendidikan dan keumatan.

Gus Sholah sendiri dikenal sebagai tokoh yang memiliki perhatian besar terhadap pendidikan, kebangsaan, kemanusiaan, dan pengembangan pesantren.

Berada di samping Gus Sholah tentu menjadi pengalaman penting bagi Gus Kikin. Ia tidak hanya belajar mengenai pengelolaan pesantren, tetapi juga mengenai bagaimana seorang kiai menghadapi persoalan masyarakat dan bangsa.

Setelah Gus Sholah wafat, amanah kepengasuhan Tebuireng kemudian berlanjut kepada Gus Kikin.

Dengan demikian, perjalanan Gus Kikin memperlihatkan sebuah proses yang panjang. Ia bukan sosok yang tiba-tiba muncul di panggung organisasi. Sebelum menerima amanah yang lebih besar, ia telah melewati berbagai fase kehidupan: sebagai anak kiai, pelajar, profesional, pengusaha, pengelola lembaga, wakil pengasuh, hingga pengasuh pesantren.

⚜️ Mengabdi untuk NU Jawa Timur

Perjalanan Gus Kikin dalam organisasi Nahdlatul Ulama semakin menguat ketika ia dipercaya memimpin Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur.

Pada tahun 2024, ia terpilih secara aklamasi sebagai Ketua PWNU Jawa Timur masa khidmat 2024–2029 dalam Konferensi Wilayah ke-18 NU Jawa Timur yang berlangsung di Tebuireng.

Kepercayaan tersebut menunjukkan bahwa kiprah Gus Kikin tidak hanya dipandang dalam lingkup keluarga dan pesantren, tetapi juga dalam lingkup organisasi NU.

Jawa Timur sendiri merupakan salah satu basis terpenting Nahdlatul Ulama. Di wilayah inilah terdapat ribuan pesantren, kiai, ulama, madrasah, lembaga pendidikan, serta jaringan warga NU yang sangat luas.

Memimpin PWNU Jawa Timur bukanlah tugas ringan.

Dibutuhkan kemampuan untuk mempertemukan berbagai karakter, menjaga hubungan antara ulama dan masyarakat, mengelola organisasi, sekaligus merawat tradisi NU agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.

Pengalaman tersebut kemudian menjadi salah satu bagian penting dari perjalanan Gus Kikin menuju tingkat nasional.

⚜️ Muktamar ke-35 dan Jalan Menuju PBNU

Pada Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Gus Kikin menjadi salah satu nama yang diperhitungkan dalam bursa calon Ketua Umum PBNU.

Lima nama yang menyatakan kesediaan maju sebagai calon Ketua Umum PBNU adalah:

1. KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin)
2. KH Zulfa Mustofa
3. KH Abdussalam Shohib (Gus Salam)
4. KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya)
5. KH Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin)

Dalam proses penjaringan, Gus Kikin memperoleh dukungan suara terbanyak dan berada di posisi pertama.

Nama-nama tersebut kemudian masuk dalam mekanisme pemilihan melalui Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA).

AHWA merupakan mekanisme yang digunakan dalam tradisi NU untuk menentukan kepemimpinan tertinggi melalui musyawarah para ulama yang dipercaya.

Sembilan anggota AHWA yang tercantum dalam berita acara tersebut adalah:

- KH Nurul Huda Djazuli
- TGK. KH Nuruzzahri Yahya
- Dr. KH Baharuddin HS
- KH Miftachul Akhyar
- KH Afifuddin Muhajir
- KH Anwar Iskandar
- KH Anwar Mansur
- Dr. KH Abun Bunyamin
- Prof. KH Said Aqil Siroj

Setelah melalui musyawarah, AHWA akhirnya mengambil keputusan.

Pada Senin, 31 Agustus 2026, KH Anwar Iskandar membacakan keputusan bahwa AHWA secara mufakat memilih KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU masa khidmat 2026–2031.

Keputusan tersebut kemudian dituangkan dalam berita acara Muktamar ke-35 NU dan ditandatangani oleh seluruh anggota AHWA.

⚜️ Melengkapi Kepemimpinan PBNU 2026–2031

Terpilihnya Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU melengkapi struktur kepemimpinan PBNU untuk masa khidmat 2026–2031.

Sehari sebelumnya, pada 30 Agustus 2026, KH Miftachul Akhyar telah dipilih sebagai Rais Aam PBNU melalui mekanisme AHWA.

Dengan demikian, kepemimpinan NU periode baru mempertemukan dua amanah besar: Rais Aam sebagai pemegang otoritas tertinggi dalam bidang keulamaan dan Ketua Umum sebagai pemimpin tanfidziyah yang menjalankan roda organisasi.

Bagi Gus Kikin, amanah sebagai Ketua Umum PBNU tentu jauh lebih luas daripada kepemimpinan di tingkat pesantren ataupun wilayah.

PBNU memiliki jaringan yang membentang dari pusat hingga daerah, dari pesantren hingga lembaga pendidikan, dari bidang sosial-keagamaan hingga ekonomi, kesehatan, pendidikan, dakwah, pemberdayaan masyarakat, dan berbagai bidang lainnya.

Karena itu, kepemimpinan Gus Kikin akan berhadapan dengan tantangan yang besar dan beragam.

⚜️ Antara Warisan Lama dan Tantangan Baru

Menarik melihat perjalanan Gus Kikin karena ia berada di antara dua dunia.

Di satu sisi, ia merupakan bagian dari tradisi pesantren yang sangat kuat. Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga ulama dan kini menjadi pengasuh salah satu pesantren paling bersejarah di Indonesia.

Di sisi lain, ia memiliki pengalaman di dunia profesional dan usaha.

Perpaduan tersebut dapat menjadi modal penting untuk menghadapi tantangan NU di masa mendatang.

NU hari ini tidak hanya berbicara tentang pengajian dan pesantren. Organisasi ini juga berhadapan dengan persoalan pendidikan, ekonomi umat, perkembangan teknologi, media, perubahan sosial, generasi muda, kesehatan, lingkungan, hingga dinamika kehidupan kebangsaan.

Seorang pemimpin NU dituntut mampu menjaga akar tradisi sekaligus memahami perubahan.

Tradisi tidak boleh ditinggalkan, tetapi perubahan juga tidak bisa dihindari.

Di sinilah pengalaman Gus Kikin menjadi menarik. Ia lahir dari pesantren, pernah berjalan di dunia profesional, mengenal dunia usaha, kemudian kembali mengabdi di pesantren dan organisasi NU.

Perjalanan tersebut memberinya pengalaman dari berbagai sisi kehidupan masyarakat.

⚜️ Tebuireng sebagai Rumah Pengabdian

Nama Tebuireng tidak dapat dipisahkan dari perjalanan Gus Kikin.

Tebuireng bukan sekadar sebuah pesantren. Ia adalah salah satu pusat sejarah perkembangan Islam dan Nahdlatul Ulama di Indonesia.

Di tempat inilah KH Hasyim Asy'ari membangun pesantren dan melahirkan tradisi keilmuan yang pengaruhnya terus terasa hingga sekarang.

Dari Tebuireng pula lahir banyak ulama, intelektual, pendidik, dan tokoh masyarakat.

Ketika Gus Kikin kemudian menjadi pengasuh Tebuireng, ia berada di dalam mata rantai panjang sejarah tersebut.

Kini, ketika ia dipercaya memimpin PBNU, amanah itu seakan membawa perjalanan Tebuireng ke ruang pengabdian yang lebih luas.

Namun tantangannya juga semakin besar.

Menjadi penerus tradisi tidak cukup hanya dengan menjaga apa yang sudah ada. Penerus juga dituntut mampu membawa nilai-nilai lama agar tetap hidup dalam keadaan zaman yang terus berubah.


⚜️ Seorang Kiai dengan Pengalaman yang Beragam

Gus Kikin merupakan gambaran sosok kiai dengan latar pengalaman yang cukup beragam.

Ia memiliki akar pesantren yang kuat, tetapi pernah menjalani pendidikan formal di luar lingkungan pesantren. Ia pernah bekerja secara profesional, terjun dalam dunia usaha, terlibat dalam organisasi bisnis, mengelola lembaga pesantren, memimpin organisasi NU, hingga akhirnya menerima amanah sebagai Ketua Umum PBNU.

Pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang yang membentuk dirinya.

Dalam konteks kepemimpinan NU, pengalaman di luar pesantren dapat menjadi jembatan untuk memahami dunia masyarakat yang lebih luas.

Sementara akar pesantren menjadi pegangan agar perubahan tidak membuat organisasi kehilangan jati diri.

Keduanya dapat berjalan berdampingan.

Pesantren memberikan kedalaman nilai. Dunia profesional memberikan pengalaman pengelolaan. Organisasi memberikan ruang pengabdian. Sedangkan masyarakat menjadi tempat seluruh nilai itu diuji dan diwujudkan.

⚜️ Amanah Besar di Pundak Gus Kikin

Terpilihnya seseorang sebagai Ketua Umum PBNU bukanlah akhir perjalanan. Justru di situlah tanggung jawab yang lebih besar dimulai.

Ada jutaan warga NU yang berharap organisasi ini terus menjadi rumah besar yang mampu memberikan manfaat.

Ada pesantren yang membutuhkan penguatan. Ada lembaga pendidikan yang perlu dikembangkan. Ada generasi muda yang membutuhkan ruang. Ada masyarakat kecil yang membutuhkan pemberdayaan. Ada tantangan ekonomi, teknologi, sosial, dan kebangsaan yang terus berkembang.

Semua itu membutuhkan kepemimpinan yang tidak hanya pandai berbicara, tetapi juga mampu bekerja.

Gus Kikin kini berada pada posisi tersebut.

Pengalamannya sebagai pengasuh pesantren, ketua PWNU Jawa Timur, serta pengalaman panjang di dunia profesional dan usaha akan menjadi modal untuk menjalankan amanah baru.

Namun pada akhirnya, ukuran keberhasilan seorang pemimpin bukanlah seberapa tinggi jabatannya, melainkan seberapa besar manfaat yang mampu ditinggalkan.

⚜️ Dari Keluarga Ulama, Kembali untuk Mengabdi kepada Umat

Perjalanan hidup KH Abdul Hakim Mahfudz memperlihatkan sebuah garis yang menarik.

Ia lahir dari keluarga ulama. Tumbuh dalam lingkungan pesantren. Menempuh pendidikan formal. Berjalan di dunia profesional dan usaha. Kemudian kembali semakin dekat dengan pesantren. Mendampingi Gus Sholah di Tebuireng. Meneruskan kepengasuhan Tebuireng. Memimpin PWNU Jawa Timur. Dan kini menerima amanah sebagai Ketua Umum PBNU.

Perjalanan itu bukan jalan yang pendek.

Ada pengalaman, proses, tanggung jawab, dan berbagai fase kehidupan yang telah dilalui.

Karena itu, ketika nama Gus Kikin disebut sebagai Ketua Umum PBNU masa khidmat 2026–2031, yang terlihat bukan hanya seorang tokoh yang terpilih dalam sebuah muktamar.

Di belakangnya terdapat sejarah keluarga, tradisi Tebuireng, pengalaman dunia usaha, perjalanan organisasi, dan kehidupan pesantren yang panjang.

Kini, semua pengalaman tersebut bertemu dalam satu amanah besar: mengabdi untuk Nahdlatul Ulama dan umat.

⚜️ Menjaga Akar, Menatap Masa Depan

Kepemimpinan Gus Kikin akan berjalan dalam sebuah zaman yang berbeda dengan masa ketika para pendiri NU membangun organisasi ini.

Teknologi berkembang begitu cepat. Generasi muda memiliki cara berkomunikasi yang berbeda. Persoalan ekonomi semakin kompleks. Informasi bergerak tanpa batas. Dunia pesantren juga menghadapi tantangan baru.

Tetapi satu hal tidak berubah: masyarakat tetap membutuhkan ilmu, keteladanan, akhlak, dan pemimpin yang mampu menghadirkan ketenangan.

Di sinilah pesantren memiliki peran penting.

Dan Gus Kikin datang dari rumah besar pesantren.

Ia membawa warisan keilmuan dari keluarga ulama, pengalaman panjang dalam kehidupan profesional, serta pengalaman organisasi yang kemudian mengantarkannya pada amanah nasional.

Harapannya, NU tetap menjadi organisasi yang kuat dalam tradisi sekaligus terbuka terhadap perubahan; teguh dalam prinsip tetapi mampu berdialog dengan zaman; dekat dengan pesantren sekaligus hadir di tengah persoalan masyarakat.

⚜️ Sebuah Babak Baru untuk NU

Terpilihnya KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU masa khidmat 2026–2031 menandai dimulainya babak baru dalam perjalanan Nahdlatul Ulama.

Dari Tebuireng, Gus Kikin membawa pengalaman dan tradisi panjang. Dari dunia profesional dan usaha, ia membawa pengalaman pengelolaan dan jaringan. Dari PWNU Jawa Timur, ia membawa pengalaman organisasi. Dan dari keluarga ulama, ia membawa warisan keilmuan serta tanggung jawab moral.

Kini semua bekal itu berada di bawah satu amanah yang lebih besar.

Lima tahun ke depan akan menjadi ruang pembuktian.

Bukan semata tentang siapa yang memimpin, tetapi tentang bagaimana kepemimpinan itu mampu menghadirkan manfaat bagi umat, memperkuat pesantren, mengembangkan pendidikan, memberdayakan masyarakat, menjaga tradisi keilmuan, serta membawa NU tetap relevan di tengah perubahan zaman.

Sebab pada akhirnya, jabatan dalam tradisi pesantren bukanlah mahkota untuk dibanggakan, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan.

Dan dari Tebuireng, sebuah perjalanan baru pengabdian Gus Kikin untuk Nahdlatul Ulama kini dimulai.Kalau Anda ingin, artikel ini juga bisa saya ubah menjadi versi lebih puitis dan bernuansa sejarah pesantren, lengkap dengan subjudul per bab dan pembuka yang lebih kuat seperti tulisan profil tokoh di majalah.

Penulis: Al-Faqir Edi Saputra, S.PdI.,Gr.,M.Pd.(cand).,CAU

(Dirangkum dari berbagai sumber)

#ulama 
#nu 
#pbnu 
#jombang

Wirid Nusantara

Wirid Nusantara

Ya Allah…
Engkaulah Laut yang menampung segala arus,
dan kami hanyalah perahu-perahu kecil
yang sering tersesat oleh ombak kepentingan.

Ya Rahman…
Indonesia ini adalah sajadah raksasa,
dari Sabang sampai Merauke,
ditenun dengan benang doa para wali,
dicuci dengan air mata para syuhada.
Tapi sajadah ini kini ternodai
oleh jejak kaki yang mabuk kuasa,
oleh noda tamak yang menolak sujud.

Ya Rahim…
Gunung-gunung masih rukuk dalam keheningan,
laut-laut masih bertasbih dengan gelombangnya,
tapi manusia di atasnya sering lupa:
lupa bahwa bumi adalah masjid,
dan rakyat kecil adalah imam yang menangis di belakang.

Ya Quddus…
Di kota-kota, layar kaca menyala,
menampilkan wajah yang tersenyum palsu,
sementara di pelosok,
anak-anak masih lapar,
ibu-ibu masih menjual perhiasan terakhirnya
demi sebungkus beras.

Ya Salam…
Burung garuda masih mengepak,
tapi bulunya rontok satu per satu,
karena di dadanya,
ada pertarungan antara nurani dan ambisi,
antara kasih dan kerakusan.

Ya Ghafur…
Ampuni kami yang menjual hutan
demi koin sesaat.
Ampuni kami yang membakar ladang
sambil menutup hidung sendiri.
Ampuni kami yang mengaku merdeka
tapi masih diperbudak layar,
oleh angka-angka, oleh gengsi, oleh syahwat dunia.

Ya Fattah…
Bukalah hati kami,
agar kembali mendengar
suara azan dari langit biru Indonesia.
Bukalah mata kami,
agar bisa melihat wajah-Mu
di mata petani, nelayan, dan anak jalanan.
Bukalah jalan kami,
agar persatuan bukan hanya slogan,
tapi napas yang hidup dalam dada kami.

Ya Baqi…
Ajarkan kami dzikir pohon,
yang tetap tegak meski ditebang;
ajarkan kami dzikir tanah,
yang sabar menanggung jejak-jejak kotor manusia;
ajarkan kami dzikir hujan,
yang jatuh lembut menyuburkan
tanpa memilih ladang siapa.

Ya Nur…
Biarlah cahaya-Mu menjadi matahari baru Nusantara,
yang menyinari rumah-rumah gelap,
yang menyalakan obor keadilan,
yang menghangatkan anak-anak bangsa
agar tidak membeku dalam apatis.

Ya Haqq…
Jika negeri ini harus rebah,
biarlah rebah dalam sujud,
jangan dalam kelalaian.
Jika negeri ini harus menangis,
biarlah menangis dalam doa,
bukan dalam kelaparan yang tak dihiraukan.
Jika negeri ini harus hancur,
biarlah hancur di tangan-Mu,
bukan di tangan mereka
yang menggadaikan nurani.

Ya Wadud…
Peluklah Indonesia
dengan kasih yang tak bertepi.
Satukan denyut jutaan hati
dalam satu wirid: “Cinta adalah Indonesia,
Indonesia adalah Cinta.”


Penulis: Miftah Faqih
Disadur oleh: Edi Saputra, S.PdI.,Gr.,(M.Pd.[cand].,CAU

Rabu, 15 Juli 2026

Prompt STRUKTUR ORGANISASI KELAS

Promptnya :
Buat poster pendidikan ukuran vertikal A4 dengan gaya ilustrasi kartun 3D Disney-Pixar yang ceria, berwarna cerah, dan sangat detail. Tema: “Struktur Organisasi Kelas SD Tahun Ajaran 2026/2027”.

Di bagian atas terdapat judul besar 3D berwarna-warni:

📚 STRUKTUR ORGANISASI KELAS
TAHUN AJARAN 2026/2027

Latar belakang berupa ruang kelas SD Indonesia yang bersih, penuh dekorasi edukatif, papan tulis, rak buku, tanaman hias, balon, bintang, dan ornamen sekolah yang menarik. Dan fantastis .

Di tengah poster terdapat bagan struktur organisasi yang rapi dengan kotak-kotak berwarna pastel campur dove yang saling terhubung menggunakan garis dan panah lucu.

Susunan Jabatan:
👩‍🏫 Wali Kelas : Bu Mira Kesumawati 

👦 Ketua Kelas : (Reizand)

👧 Wakil Ketua : (Azka)

📝 Sekretaris : (Aisya)

💰 Bendahara : (Cheryl)

🧹 Koordinator Kebersihan : (Vano)

📖 Koordinator Literasi : (Kayla)

🌱 Koordinator Tanaman Kelas : (Amelia)

🏃 Koordinator Olahraga : (Nabil)

🎨 Koordinator Kreativitas : (Deby)

Setiap jabatan disertai ilustrasi siswa SD Indonesia mengenakan seragam merah putih. Siswa perempuan memakai hijab putih, siswa laki-laki berambut rapi. Semua karakter tersenyum ceria dan tampil profesional sesuai tugasnya.

Tambahkan ikon kecil yang sesuai:

* Buku untuk sekretaris
* Uang untuk bendahara
* Sapu untuk kebersihan
* Buku bacaan untuk literasi
* Tanaman untuk koordinator tanaman
* Bola untuk olahraga
* Palet warna untuk kreativitas

Gunakan kombinasi warna pastel biru, kuning, hijau, pink, dan ungu. Desain sangat rapi, modern, ramah anak, berkualitas tinggi, ultra-detail, pencahayaan cerah, fokus tajam, 4K educational poster, cocok dipajang di kelas SD Indonesia
 Kombinasikan dengan
Jadwal piket kelas buat dalam 1 hari berisi 4-5 siswa.

Senin ( kayla, Vano , Ervan , Megi) 

Selasa ( Cheryl, Reizand, Nawa, Abil )

Rabu ( Nabil, Chaca, Fatih, Suci)

Kamis (Aisya , Azka, Amatul, Duha) 

Jumat ( Verza , Dara, Deby)

Sabtu ( Amel , Mila, Farel )




HUKUM ISTRI MEMANGGIL SUAMI DENGAN NAMA ASLI

HUKUM ISTRI MEMANGGIL SUAMI DENGAN NAMA ASLI Berkaitan dengan hukum seorang istri memanggil suaminya dengan nama aslinya, salah ...