Wahai jiwa yang mabuk oleh namanya sendiri, mengapa kau bangun istana dari pujian, sedangkan liang lahat tak mengenal gelar dan jabatan?
Kau perebutkan kursi, padahal keranda sedang menunggu.
Kau kumpulkan emas, padahal kafan tak memiliki saku.
Kau jual amanah demi kuasa, kau tukar nurani dengan dunia, kau sujud panjang di hadapan manusia, tetapi hatimu membelakangi-Nya.
*Tidakkah kau dengar?*
Setiap detak jantung adalah ketukan dari alam keabadian.
Setiap helaan napas adalah sehelai umur yang ditanggalkan.
Wahai pemilik lisan yang fasih menyebut Tuhan,
Jangan jadikan agama tangga kesombongan! Jangan bungkus keserakahan dengan kesalehan,
Jangan sembunyikan pengkhianatan di balik jubah pengabdian!
Sebab kelak, ketika tanah menutup mulutmu, bukan pengikut yang membelamu, bukan kekuasaan yang menyelamatkanmu, melainkan amal yang dahulu kau sembunyikan dari tepuk tangan manusia.
Wahai jiwa, ke mana engkau hendak lari?
Maut tak menerima suap. Kubur tak mengenal kompromi. Malaikat tak silau oleh kehormatan. Dan Tuhan tak tertipu oleh pencitraan.
Maka sebelum namamu berubah menjadi tulisan di batu, patahkan berhala keakuanmu! Kembalikan hak yang kau rampas, peluklah mereka yang kau lukai, bersujudlah sebelum tubuhmu disujudkan oleh kematian.
Sebab yang paling mengerikan bukanlah mati sebelum tua, melainkan hidup begitu lama namun tak pernah benar-benar bertobat.
Ya Allah...
Jangan biarkan kami menjadi mayat yang masih berjalan, bernapas tanpa kesadaran, beragama tanpa kejujuran, dan memimpin tanpa belas kasihan.
Matikan kesombongan kami sebelum Engkau mematikan jasad kami.
Karena ketika tanah akhirnya memanggil, hanya satu yang ingin kami bawa:
Hati yang tak lagi memiliki dunia, sebab seluruh ruangnya telah dipenuhi cinta kepada-Mu.
Kematian bukan akhir dari segalanya.
Ia adalah akhir dari seluruh kesempatan berpura-pura.
Oleh Edi Saputra, S.PdI.,Gr.,M.Pd.(can).
Ref. Dr. Miftah Faqih PBNU