Tampilkan postingan dengan label Isra' Mi'raj. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Isra' Mi'raj. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 Januari 2026

Isra' Mi'raj

Isra' Mi'raj as you see
Jaddu hamzah

Ditulis oleh: Al-Faqir Edi Saputra, S.PdI.,Gr.




Banyak pembahasan Isra’ Mi‘raj berhenti di keajaiban peristiwa dan kewajiban salat, padahal ada sudut pandang penting yang jarang disadari umat. Beberapa di antaranya:

1️⃣ Isra’ Mi‘raj sebagai pemulihan jiwa, bukan sekadar mukjizat

Peristiwa ini terjadi setelah ‘Āmul Ḥuzn (tahun kesedihan): wafatnya Khadijah dan Abu Thalib, serta penolakan brutal di Thaif.
Jarang disorot bahwa Isra’ Mi‘raj adalah bentuk penyembuhan Ilahi (healing) bagi Rasul ﷺ yang sedang berada di titik terendah secara emosional dan sosial.

➡️ Pesan pentingnya:
Allah sering memberi “kenaikan spiritual” setelah kehancuran mental, bukan saat kita sedang berjaya.

2️⃣ Mi‘raj bukan pelarian dari bumi, tapi penguatan untuk kembali ke bumi

Nabi ﷺ tidak tinggal di langit, padahal beliau diberi kesempatan melihat surga, neraka, dan Sidratul Muntaha.

➡️ Yang jarang ditekankan:
Mi‘raj bukan eskapisme spiritual, tetapi penguatan mandat kerasulan. Setelah “naik”, beliau harus kembali menghadapi realitas berat di Makkah.

➡️ Kritik implisit untuk umat:
Spiritualitas yang membuat kita lari dari masalah sosial bukan teladan Mi‘raj.

3️⃣ Dialog tawar-menawar salat:

Allah mengajarkan proses, bukan hasil instan
Perintah awal 50 salat lalu “negosiasi” menjadi 5 sering dianggap kisah ringan. Padahal ini mengajarkan bahwa:
_Allah menghendaki proses,_
dan _mendengarkan keterbatasan manusia,_
tanpa mengurangi nilai ibadah.

➡️ Jarang disadari:
Islam tidak dibangun atas kelelahan ekstrem, tapi keberlanjutan (istiqamah).

4️⃣ _Iman bukan soal logika, tapi kejujuran sikap_

Abu Bakar tidak membuktikan Isra’ Mi‘raj secara fisika, tapi berkata:
“Jika Muhammad yang mengatakannya, maka itu benar.”

➡️ Sudut pandang penting:
Iman bukan menolak akal, tapi menempatkan akal di bawah kejujuran kenabian.
Ini berbeda dengan iman yang hanya percaya saat “masuk akal”.

5️⃣ Masjid Al-Aqsha sebagai pusat spiritual global, bukan isu regional

Isra’ selalu dimulai dari Masjidil Haram ke Masjid Al-Aqsha, bukan langsung ke langit.

➡️ Makna yang sering dilupakan:
Aqsha adalah bagian integral dari akidah,
bukan sekadar simbol politik atau isu geografis.

Mengabaikan Aqsha = memotong salah satu simpul sejarah spiritual Islam.

6️⃣ Mi‘raj adalah standar nilai, bukan kisah nostalgia

Dalam Mi‘raj, Nabi ﷺ melihat:
- orang yang lisannya tajam,
- pemakan riba,
- pengkhianat amanah.

➡️ Jarang disadari:
Mi‘raj adalah cermin moral umat, bukan hanya cerita indah untuk diperingati setahun sekali.

7️⃣ Shalat = Mi‘raj-nya orang beriman, tapi hanya jika sadar

Ungkapan ini sering diucap, tapi jarang direnungkan:
Salat tanpa kesadaran hanya gerakan,
Salat dengan kehadiran hati adalah “kenaikan”.

➡️ Pertanyaan kritisnya:
Apakah salat kita benar-benar membawa kita naik, atau sekadar gugur kewajiban?

▪️📌▪️

Wallahu A'lam...

Ditantang KH Hasan Gipo, Nyali Muso Si Tokoh PKI Langsung Ciut

Ditantang KH Hasan Gipo, Nyali Muso Si Tokoh PKI Langsung Ciut Penulis: Al-Faqir Edi Saputra, S.PdI.,Gr. Ada sebuah kisah menarik tentang Mu...