Isra' Mi'raj as you see
Jaddu hamzah
Ditulis oleh: Al-Faqir Edi Saputra, S.PdI.,Gr.
Banyak pembahasan Isra’ Mi‘raj berhenti di keajaiban peristiwa dan kewajiban salat, padahal ada sudut pandang penting yang jarang disadari umat. Beberapa di antaranya:
1️⃣ Isra’ Mi‘raj sebagai pemulihan jiwa, bukan sekadar mukjizat
Peristiwa ini terjadi setelah ‘Āmul Ḥuzn (tahun kesedihan): wafatnya Khadijah dan Abu Thalib, serta penolakan brutal di Thaif.
Jarang disorot bahwa Isra’ Mi‘raj adalah bentuk penyembuhan Ilahi (healing) bagi Rasul ﷺ yang sedang berada di titik terendah secara emosional dan sosial.
➡️ Pesan pentingnya:
Allah sering memberi “kenaikan spiritual” setelah kehancuran mental, bukan saat kita sedang berjaya.
2️⃣ Mi‘raj bukan pelarian dari bumi, tapi penguatan untuk kembali ke bumi
Nabi ﷺ tidak tinggal di langit, padahal beliau diberi kesempatan melihat surga, neraka, dan Sidratul Muntaha.
➡️ Yang jarang ditekankan:
Mi‘raj bukan eskapisme spiritual, tetapi penguatan mandat kerasulan. Setelah “naik”, beliau harus kembali menghadapi realitas berat di Makkah.
➡️ Kritik implisit untuk umat:
Spiritualitas yang membuat kita lari dari masalah sosial bukan teladan Mi‘raj.
3️⃣ Dialog tawar-menawar salat:
Allah mengajarkan proses, bukan hasil instan
Perintah awal 50 salat lalu “negosiasi” menjadi 5 sering dianggap kisah ringan. Padahal ini mengajarkan bahwa:
_Allah menghendaki proses,_
dan _mendengarkan keterbatasan manusia,_
tanpa mengurangi nilai ibadah.
➡️ Jarang disadari:
Islam tidak dibangun atas kelelahan ekstrem, tapi keberlanjutan (istiqamah).
4️⃣ _Iman bukan soal logika, tapi kejujuran sikap_
Abu Bakar tidak membuktikan Isra’ Mi‘raj secara fisika, tapi berkata:
“Jika Muhammad yang mengatakannya, maka itu benar.”
➡️ Sudut pandang penting:
Iman bukan menolak akal, tapi menempatkan akal di bawah kejujuran kenabian.
Ini berbeda dengan iman yang hanya percaya saat “masuk akal”.
5️⃣ Masjid Al-Aqsha sebagai pusat spiritual global, bukan isu regional
Isra’ selalu dimulai dari Masjidil Haram ke Masjid Al-Aqsha, bukan langsung ke langit.
➡️ Makna yang sering dilupakan:
Aqsha adalah bagian integral dari akidah,
bukan sekadar simbol politik atau isu geografis.
Mengabaikan Aqsha = memotong salah satu simpul sejarah spiritual Islam.
6️⃣ Mi‘raj adalah standar nilai, bukan kisah nostalgia
Dalam Mi‘raj, Nabi ﷺ melihat:
- orang yang lisannya tajam,
- pemakan riba,
- pengkhianat amanah.
➡️ Jarang disadari:
Mi‘raj adalah cermin moral umat, bukan hanya cerita indah untuk diperingati setahun sekali.
7️⃣ Shalat = Mi‘raj-nya orang beriman, tapi hanya jika sadar
Ungkapan ini sering diucap, tapi jarang direnungkan:
Salat tanpa kesadaran hanya gerakan,
Salat dengan kehadiran hati adalah “kenaikan”.
➡️ Pertanyaan kritisnya:
Apakah salat kita benar-benar membawa kita naik, atau sekadar gugur kewajiban?
▪️📌▪️
Wallahu A'lam...