Minggu, 08 Februari 2026

PRESIDEN PRABOWO TERHARU DI TENGAH NU

PRESIDEN PRABOWO TERHARU DI TENGAH NU
Oleh: Al-Faqir Edi Saputra, S.PdI.,Gr. 


Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menghadiri dan memberikan pidato pada Mujahadah Kubro Satu Abad Nahdlatul Ulama (NU) di Malang, Jawa Timur.

Dalam kesempatan tersebut, Presiden Prabowo mengungkapkan rasa bahagia dan semangat setiap kali berada di tengah keluarga besar NU. Ia menilai NU menghadirkan kesejukan, getaran persaudaraan, serta semangat kesatuan dan keguyuban yang menjadi fondasi penting bagi persatuan bangsa.

Presiden juga menyampaikan apresiasi khusus kepada para kiai, ulama, santri, serta kaum ibu NU yang hadir. Menurutnya, kekuatan moral dan kebersamaan warga NU memberikan energi dan keberanian tersendiri baginya untuk terus berbakti dan mengabdi kepada seluruh rakyat Indonesia tanpa kecuali.

Dalam momentum peringatan 100 tahun NU, Presiden Prabowo menegaskan bahwa sejarah panjang NU telah membuktikan perannya sebagai pilar kebesaran bangsa. Ia menilai NU selalu tampil di garis depan setiap kali negara menghadapi masa-masa sulit dan ancaman, serta konsisten menjaga nilai-nilai keislaman yang moderat, damai, dan berakar kuat pada kebangsaan.

Acara Mujahadah Kubro Satu Abad NU ini menjadi simbol kuat sinergi antara ulama dan umara dalam menjaga persatuan, kedamaian, dan harapan akan terwujudnya Indonesia yang adil, makmur, dan bermartabat.

📸 Foto bawah milik Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden

Wallahu A'lam
Wallahulmuwafiqu Ila Aqwamit Thariq

Presiden Prabowo Subianto: Tiap Kali Negara Dalam Bahaya, NU Hadir Menyelamatkan

𝙋𝙧𝙚𝙨𝙞𝙙𝙚𝙣 𝙋𝙧𝙖𝙗𝙤𝙬𝙤 𝙎𝙪𝙗𝙞𝙖𝙣𝙩𝙤: 𝙏𝙞𝙖𝙥 𝙆𝙖𝙡𝙞 𝙉𝙚𝙜𝙖𝙧𝙖 𝘿𝙖𝙡𝙖𝙢 𝘽𝙖𝙝𝙖𝙮𝙖, 𝙉𝙐 𝙃𝙖𝙙𝙞𝙧 𝙈𝙚𝙣𝙮𝙚𝙡𝙚𝙢𝙖𝙩𝙠𝙖𝙣
Oleh: Al-Faqir Edi Saputra, S.PdI.,Gr.


Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menyatakan Nahdlatul Ulama (NU) telah membuktikan diri sebagai salah satu pilar kebangsaan Indonesia. 

Ia menilai NU selalu hadir dan berperan dalam menyelamatkan bangsa setiap kali negara berada dalam kondisi bahaya.

Hal tersebut disampaikan Prabowo saat menghadiri Mujahadah Kubro Satu Abad NU yang digelar di Stadion Gajayana, Malang, Jawa Timur, Minggu (8/2/2026). 

Dalam sambutannya, Prabowo menegaskan bahwa kiprah NU selama lebih dari satu abad menunjukkan komitmen organisasi tersebut terhadap keutuhan dan kebesaran bangsa Indonesia.

Prabowo mengingatkan kembali sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia, khususnya pertempuran besar di Surabaya pada tahun 1945. 

Ia menilai bangsa Indonesia berhasil mempertahankan kemerdekaannya dalam menghadapi kekuatan negara-negara besar dunia, termasuk Inggris sebagai pemenang Perang Dunia Kedua.

Menurut Prabowo, keberhasilan tersebut tidak terlepas dari peran para kiai, ulama, dan rakyat Jawa Timur, khususnya Surabaya. 

Ia menegaskan bahwa perjuangan tersebut menjadi bukti bahwa bangsa Indonesia tidak lagi mau tunduk kepada penjajahan dalam bentuk apa pun.

Selain itu, Prabowo juga menyampaikan apresiasi kepada NU atas perannya dalam menjaga persatuan, kedamaian, dan stabilitas nasional. 

Ia mengucapkan terima kasih kepada para kiai, ulama, serta seluruh warga Nahdliyin yang dinilainya konsisten berkontribusi bagi ketenteraman kehidupan berbangsa dan bernegara.

Prabowo menilai NU sebagai organisasi kemasyarakatan Islam yang senantiasa setia menjaga martabat dan kebesaran bangsa Indonesia. 

Ia berharap NU terus berperan aktif dalam mencerdaskan, mensejahterakan, menyatukan, serta menjaga toleransi antarumat beragama di Indonesia.

Foto bawah : Setkab RI

Wallahu A'lam
Wallahulmuwafiqu Ila Aqwamit Thariq

Pesan KH. Hasan Abdullah Sahal untuk orang tua yang masih enggan memasukan putra/i nya ke pesantren.

Pesan KH. Hasan Abdullah Sahal untuk orang tua yang masih enggan memasukan putra/i nya ke pesantren.

Penulis: Edi Saputra, S.PdI.,Gr.



1. Terlalu memanjakan anak itu akan menghambat masa depannya. Sebab nanti mereka gak bisa mandiri, gak paham agama, gak ngerti Qur’an, gak punya akhlaq, ujung-ujungnya gak bisa jadi amal jariyahmu kelak kalau kamu telah tiada.

2. Ketika anak mau masuk pondok apalagi menghafal Qur’an gak usah di tangisi. Itu rezeki, kamu harus bersyukur

3. Coba bayangkan jika anak-anakmu hidup di luar sekarang. Apa iya kamu tega setiap jam 4 pagi memaksa mereka untuk bangun Tahajud? Apa iya setiap hari kamu ada waktu menyimak setoran hafalan mereka?

4. Coba lihat dirimu sekarang sudah yakinkah kira-kira sengan sholatmu, puasamu, bisa membuat kamu masuk surga-Nya Allah?5. Jika kamu yakin amalmu bisa menjaminmu masuk surga yo sak karepmu. Urusen anakmu dengan budaya barat yang sekarang lagi trend diluar sana.

6. Anak-anak kecil wes podo pinter dolanan hp buka situs apa saja bisa bangga punya ini itu: baju, sepatu, tas ber-merk, lha pas disuruh ngaji blekak blekuk. Ditanya tentang agama prengas-prenges, arep dadi opo?

7. Kamu hanya dititipi mereka, nanti kamu akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Kira-kira kalau anakmu lebih bangga kenal artis, lebih bangga dengan benda bermerk, lebih seneng menghafal lagu ora genah, gak kenal Gusti Allah, kanjeng Nabi, gak bisa baca dan paham Al Qur’an, gak ngerti budi pekerti, lha kamu mau jawab apa kelak dihadapan Allah?

8. Apa hakmu menghalangi anak-anakmu lebih dekat dengan pemiliknya dengan jalan tholabul ilmi di lingkungan yang mendukung mereka menjadi lebih arif dan berbudi? Ingat kamu hanya perantara dipinjami, dititipi dan diamanahi.


Wallahu A'lam

Rabu, 21 Januari 2026

Keutamaan Umrah di Bulan Ramadhan✨

Keutamaan Umrah di Bulan Ramadhan✨
Penulis: Al-Faqir Edi Saputra, S.PdI.,Gr.


1. Pahalanya setara dengan haji
📝Hadist Shahih:
Dari Ibnu ‘Abbas رضي الله عنهما, Rasulullah ﷺ bersabda:
عُمْرَةٌ فِي رَمَضَانَ تَعْدِلُ حَجَّةً
“Umrah di bulan Ramadhan setara dengan haji.” (HR. Al-Bukhari no. 1782 dan Muslim no. 1256)

Dalam riwayat Muslim disebutkan lebih lengkap:
تَعْدِلُ حَجَّةً مَعِي
“Setara dengan haji bersamaku (Rasulullah ﷺ).”

2. Waktu penuh keberkahan dan ampunan
Menggabungkan ibadah umrah dengan keutamaan Ramadhan menjadikan amal semakin bernilai di sisi Allah.

3. Menggabungkan banyak ibadah utama
Saat umrah di Ramadhan, seorang muslim bisa mengumpulkan banyak amal:
Umrah, puasa, shalat di Masjidil Haram (1 shalat = 100.000 pahala), tilawah Al-Qur’an, i’tikaf dan dzikir


4. Mendapatkan pengalaman spiritual yang mendalam
Ramadhan melembutkan hati, dan berada di Tanah Suci pada bulan ini membuat:
🔥Lebih khusyuk
🔥Lebih dekat dengan Allah
🔥Lebih mudah bertaubat dan memperbaiki diri

Senin, 19 Januari 2026

KEUTAMAAN JANNATUL BAQĪ‘ (PEMAKAMAN BAQĪ‘)

KEUTAMAAN JANNATUL BAQĪ‘ (PEMAKAMAN BAQĪ‘)
By Edi Saputra, S.PdI.,Gr.

1. Pemakaman Utama Kaum Muslimin
Jannatul Baqī‘ adalah pemakaman kaum Muslimin di Madinah sejak zaman Rasulullah ﷺ. Beliau sendiri yang mengarahkan agar kaum Muslimin dimakamkan di sana. Hal ini menunjukkan kemuliaan Baqī‘ dalam sejarah Islam.

2. Tempat Peristirahatan Orang-Orang Mulia
Di Baqī‘ dimakamkan banyak tokoh agung Islam, di antaranya:
Para sahabat Nabi ﷺ
Istri-istri Rasulullah ﷺ (Ummahatul Mu’minin) selain Khadijah dan Maimunah
Hasan bin ‘Ali رضي الله عنه
‘Utsman bin ‘Affan رضي الله عنه
Ibrahim putra Rasulullah ﷺ
Baqī‘ menjadi saksi sejarah generasi terbaik umat ini.

3. Sering Diziarahi dan Didoakan Rasulullah ﷺ
Rasulullah ﷺ sering mendatangi Baqī‘, terutama pada waktu malam, untuk mendoakan para penghuninya.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِأَهْلِ بَقِيعِ الْغَرْقَدِ
“Ya Allah, ampunilah penghuni Baqī‘ al-Gharqad.”
(HR. Muslim)
Doa Nabi ﷺ merupakan keutamaan besar bagi penghuni Baqī‘.

4. Keutamaan Penghuni Baqī‘ di Hari Akhir
Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa sebagian penghuni Baqī‘ akan mendapatkan keutamaan khusus pada hari kiamat, termasuk syafaat dan ampunan Allah ﷻ. Meski derajat riwayatnya beragam, para ulama sepakat bahwa Baqī‘ memiliki keutamaan tersendiri.


5. Berada di Tanah Madinah yang Diberkahi
Baqī‘ terletak di Madinah, kota yang dimuliakan Allah dan Rasul-Nya ﷺ. Dimakamkan di tanah Madinah adalah harapan banyak sahabat karena keberkahan dan keutamaannya.

6. Pelajaran dan Hikmah Ziarah Baqī‘
Ziarah ke Baqī‘ mengajarkan:
Mengingat kematian dan akhirat
Kesederhanaan dan tawadhu‘
Pentingnya mendoakan kaum Muslimin
Bahwa kemuliaan sejati terletak pada iman dan amal, bukan pada bangunan makam

Penutup
Jannatul Baqī‘ bukan sekadar pemakaman, tetapi madrasah iman yang menghidupkan kesadaran akhirat, menumbuhkan cinta kepada para salaf, dan mengajarkan kerendahan hati. Ziarah ke Baqī‘ adalah kesempatan untuk memperbanyak doa, muhasabah, dan memperbaiki amal.

Wallahua'lam...

Kyai Hasan Besari, Gurunya Para Raja Hingga Rakyat Jelata

Kyai Hasan Besari, Gurunya Para Raja Hingga Rakyat Jelata

Penulis: Al-Faqir Edi Saputra, S.PdI.,Gr.


Memasuki makam Kyai Ageng Hasan Besari nampak pintu besar menghalang-halangi. Setiap hari-hari tertentu pintu tersebut ditutup. Di dalamnya terdapat dua kuburan. Pada batu nisannya menempel dua buah papan bertuliskan Jawa Kuno. Kata juru kunci, makam yang satu adalah Kyai Hasan Besari, satunya isterinya.

Pada dinding-dinding makam terbentang kain kafan mengelilinginya. Lantainya berbahan keramik, buatan modern. Pun kuncup makam telah direnovasi dengan batu marmer. Arsiteknya pastilah seorang amatiran sebab bangunannya terkesan biasa-biasa saja, tiada menonjolkan suatu maha karya besar. Setiap malam-malam tertentu makam tersebut sering didatangi keturunan Kyai Hasan Besari guna melakukan doa bersama.

Tak jauh dari makam terdapat sebuah masjid. Masjid tersebut konon pernah digunakan Kyai Ageng menyebarkan ilmunya. Peninggalan Kyai Ageng yang masih terlihat adalah Pondok Tegalsari.

Dalam sejarahnya, Pesantren Tegalsari pernah mengalami zaman keemasan berkat kealiman, kharisma, dan kepiawaian para kyai yang mengasuhnya. Ribuan santri datang menuntut ilmu di pondok ini.

Mereka berasal dari hampir seluruh tanah Jawa dan sekitarnya. Karena besarnya jumlah santri, seluruh desa menjadi pondok, bahkan pondokan para santri juga didirikan di desa-desa sekitar, misalnya Desa Jabung (Nglawu), Desa Bantengan, dan lain-lain. Jumlah santri yang begitu besar dan berasal dari berbagai daerah dan berbagai latar belakang itu menunjukkan kebesaran lembaga pendidikan ini.

Pakubuwono II dan HOS Cokroaminoto.
Dari tangan Kyai Ageng Hasan Besari telah lahir orang-orang besar, seperti Pakubuwono II atau Sunan Kumbul, Raden Ngabehi Ronggowarsito dan tokoh pergerakan nasional H.O.S Cokroaminoto.

Setelah Kyai Ageng Hasan Besari wafat, beliau digantikan oleh putra ketujuh yaitu Kyai Hasan Yahya. Namun pada pertengahan abad ke-19 atau pada generasi keempat keluarga Kyai Besari, Pesantren Tegalsari mulai surut. Jumlah santrinya kian menyusut. Walaupun demikian, banyak para santri dan anak cucunya yang mengembangkan agama Islam dengan mendirikan Pondok Pesantren di berbagai daerah di seluruh Nusantara.

Salah satu yang terbesar adalah Pondok Modern Darussalam Gontor yang terletak di wilayah kecamatan Mlarak. Pondok ini didirikan oleh tiga orang cucu Kyai Ageng Hasan Besari.

Terkait dengan berdirinya pondok pesantren Gontor, saat kepemimpinan dipegang Kyai Khalifah, ada seorang santri yang sangat menonjol dalam segala bidang. Namanya Sulaiman Jamaluddin. Karena kedekatannya dengan Kyai maka Sulaiman diangkat menjadi mantu bahkan dipercaya untuk mendirikan pesantren sendiri di Desa Gontor.

Pada saat itu Gontor sendiri masih merupakan hutan belantara yang jarang didatangi orang.

Hutan tersebut dikenal sebagai tempat persembunyian perampok, penjahat, penyamun dan pemabuk.

Jelasnya, tempat ini adalah tempat kotor dan sumber dari segala kotoran.

Dalam bahasa Jawa, tempat yang kotor disebut nggon kotor (tempat kotor), yang disingkat menjadi “gon-tor”.

Pesantren Tegalsari.
Di desa inilah Kyai Sulaiman Jamaluddin diberi amanat untuk merintis pondok pesantren seperti Tegalsari dengan bekal 40 santri. Pondok inilah yang menjadi cikal bakal dari Pondok Modern Gontor saat ini.

Sebenarnya ada banyak versi soal sosok Kyai Hasan Besari. Karena keterbatasan literatur, ulasan sosok Kyai Hasan Besari diambil dari sumber-sumber sesepuh di Desa Tegalsari yang masih hidup. Dari kumpulan cerita masyarakat bila diuraikan kisahnya menjadi demikian:

Pada abad ke-18, dua pemuda sedang melakukan perjalanan mencari seorang guru. Keduanya berjalan mengelilingi hampir separuh kepulauan nusantara. Sampailah keduanya di perkampungan penduduk di mana banyak ditumbuhi pepohonan kelapa. Saat terik mentari menjalar ke pori-pori kulit, seketika rasa haus mengakibatkan tenggorokan keduanya mengering.

Di desa tersebut mereka melihat pohon kepala menjulang ke atas beserta buah kelapanya yang ranum. Rasa haus dan lelah membuat kesadaran keduanya tersulut. Tanpa meminta ijin kepada ‘si empunya’ mereka segera mengambilnya. Pohon tersebut tidak dipanjat. Terlalu tinggi. Lagipula mereka tidak tahu cara memanjat kelapa.

Dengan bebatuan di samping mereka, keduanya melempari buah kelapa. Tak urung beberapa kali lemparan mereka meleset, mengena pun tidak menjatuhkan kelapa. Pada saat itu muncullah seorang lelaki tua dengan dandanannya layaknya petani. Rambutnya sudah ditumbuhi uban. Kulitnya keriput. Namun demikian, gerakannya masih gesit. Kepada kedua pemuda tadi, lelaki tua tersebut menegur:

“Wong kelopo kok disawat. Yo ora iso yo, Tole!” (Buah kelapa kok dilempari, ya tidak bisa yo, Nak).

“Maafkan kelancangan kami, Kek. Kami melakukannya karena haus dan kalau memanjat juga tidak tahu caranya,” kata seorang dari mereka.

“Caranya begini lho, Tole!”

Lelaki tua tersebut lalu menginjakkan kaki kanannya pada batang pohon. Dengan kaki tuanya pohon kelapa didorongnya hingga melengkung ke bawah.

“Sudah cepat ambil saja!” Serunya.

Kedua pemuda tertegun. Dengan hanya menggunakan satu kaki dia sanggup melenturkan pohon kelapa seperti melenturkan karet. Tentu dia bukan sembarang orang, melainkan seorang yang berilmu dan memiliki kesaktian. Kedua pemuda tersebut segera bersimpuh dan meminta dijadikan muridnya.

Singkat cerita, keduanya diterima oleh lelaki tua yang tidak diketahui namanya. Namun orang menyebutnya: Kyai Sopo Nyono.

Kedua pemuda haus ilmu itu kemudian diajari ilmu tingkat tinggi, hingga tibalah ajal Kyai Sopo Nyono. Sebelum pergi sang guru berpesan kepada kedua muridnya agar mendakwahkan ilmunya kepada masyarakat. Sepeninggal Kyai Sopo Nyono, kedua murid menyebarkan agama Islam hingga ke pelosok-pelosok desa.

Pintu masuk ke makam Kyai Hasan Besari di Desa Tegalsari.
Satu murid yang tidak diketahui namanya berdakwah dengan cara berkeliling. Sementara murid satunya yang belakangan diketahui adalah Hasan Besari berdakwah di daerah Ponorogo. Dengan warisan ilmu gurunya, seketika nama Hasan Besari mulai dikenal kalangan pemuka agama, cendekiawan, raja-raja, hingga rakyat jelata.

Tidak sedikit orang-orang dari penjuru Nusantara datang kepadanya untuk menimba ilmu. Beliau bukan saja pandai mengajar agama, melainkan juga mahir dalam ketatanegaraan, ahli strategi perang dan kesusastraan.

Dengan ilmu karomah–orang dulu menyebut kesaktian–yang dimiliki Hasan Besari, tak pelak semakin menumbuhkan keyakinan orang-orang bahwa Hasan Besari adalah orang besar.

Dalam waktu singkat Hasan Besari telah mendirikan pondok pesantren. Ribuan orang tak surut memadati pesantren Hasan Besari. Hingga suatu ketika terjadilah perselisihan antara Hasan Besari dengan Pakubuwono II.

Saat itu Sang Raja iri melihat pengaruh Hasan Besari sangat besar terhadap masyarakat. Saking besarnya sampai-sampai menimbulkan kekhawatiran terhadap kedudukannya sebagai raja.

Kebesaran nama Hasan Besari dinilai raja bakal meruntuhkan kekuasaannya. Memang, semenjak Hasan Besari berdakwah di Ponorogo, wilayah tersebut seakan-akan memiliki hukum dan perundang-undangan sendiri.

Bagi Sang Raja, Hasan Besari telah menodai kekuasaan kerajaan dengan menerapkan hukum sendiri. Sesuai titah baginda raja, para prajurit diutus untuk menangkap Hasan Besari. Diputuskan Hasan Besari diasingkan ke luar Jawa.

Namun ada sebuah keajaiban. Ketika Hasan Besari naik kapal, tiba-tiba kapal berhenti dengan sendiri. Meski layar telah dikembangkan, kapal itu tetap tidak bergerak. Diam di tempatnya seakan ada bongkahan batu raksasa telah menahan laju kapal. Sebaliknya manakala Hasan Besari diturunkan, kapal dapat melaju kencang.

Karena kurangnya keyakinan para prajurit terhadap nama besar Hasan Besari, hal ini dilakukan berkali-kali hingga membuat mereka menyerah dan membawa kembali tawanan ke hadapan Sang Raja.

Melihat kejadian di luar nalar ini, Pakubuwono II lantas mengutus prajuritnya menjebloskan Hasan Besari dalam tahanan. Selama dalam tahanan, setiap malam Hasan Besari selalu melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an. Suaranya sangat merdu sekali. Sampai-sampai hewan yang biasa melolong di malam hari seketika terdiam mendengarkan alunan Hasan Besari.

Dengan suara keemasannya pula, beliau mampu menggetarkan dinding-dinding istana. Seluruh kadipaten seakan ikut berdzikir mendengarkan suara Hasan Besari. Pepohonan dan dedaunan menari-nari. Angin barat, timur, selatan, utara telah dibuatnya membisu dalam keheningan malam.

Bahkan hati seorang putri raja tersayat-sayat mendengarkan lantunan Hasan Besari. Ia luluh. Air mata menetes dari kedalamannya dan meninggalkan beribu tanda tanya: siapakah pelantun ayat-ayat tersebut.

Tanpa mengetahui orangnya, sang putri rupanya telah jatuh hati terhadap Hasan Besari. Keinginannya ini kemudian disampaikan kepada ayahandanya. Namun keinginan putrinya ini sempat ditentang lantaran sang pelantun hanyalah seorang tahanan.

“Ayahanda, aku sangat menyukai sang pelantun. Bolehkah kiranya ayahanda menikahkan aku dengannya.”

“Anakku, dia itu hanya seorang tahanan, seorang pelawan hukum. Tidak sepatutnya kamu jatuh cinta kepadanya.”

“Kalau ayahanda tidak bersedia menikahkan aku dengannya, maka aku akan bunuh diri!” Ancam Sang Putri.

Karena tekad yang kuat, raja tak kuasa menolak keinginan anaknya. Ia pun mengabulkan permintaan anaknya untuk menikah dengan Hasan Besari.

Makam Kyai Hasan Besari.
Namun dalam Babad Perdikan Tegalsari diceritakan tentang latar belakang Pakubuwono II yang nyantri di Pondok Tegalsari. Pada suatu hari, tepatnya tanggal 30 Juni 1742, di Kerajaan Kartasura terjadi pemberontakan Cina yang dipimpin oleh Raden Mas Garendi Susuhuhan Kuning, seorang Sunan keturunan Tionghoa.

Serbuan yang dilakukan oleh para pemberontak itu terjadi begitu cepat dan hebat sehingga Kartasura tidak siap menghadapinya. Karena itu Pakubuwono II bersama pengikutnya segera pergi dengan diam-diam meninggalkan Keraton menuju ke timur Gunung Lawu.

Dalam pelariannya itu dia sampai di desa Tegalsari. Di tengah kekhawatiran dan ketakutan dari kejaran pasukan Sunan Kuning itulah kemudian Pakubuwono II berserah diri kepada Kanjeng Kyai Hasan Besari.

Penguasa Kartasura ini selanjutnya menjadi santri dari Kyai wara` itu; dia ditempa dan dibimbing untuk selalu bertafakkur dan bermunajat kepada Allah, Penguasa dari segala penguasa di semesta alam.

Berkat keuletan dan kesungguhannya dalam beribadah dan berdoa serta berkat keikhlasan bimbingan dan doa Kyai Besari, Allah swt mengabulkan doa Pakubuwono II. Api pemberontakan akhirnya reda. Pakubuwono II kembali menduduki tahtanya. Sebagai balas budi, Sunan Pakubuwono II mengambil Kyai Hasan Besari menjadi menantunya.

Selama pernikahan antara Hasan Besari dan putri Pakubuwono II, terjadi banyak kejadian-kejadian ganjil di halaman istana.

Tersebutlah seorang patih juga paman sang putri yang memiliki kesaktian, merasa iri dengan kelebihan serta kedudukan Hasan Besari sebagai menantu raja. Maka, dengan ijin Pakubuwono II, Maha Patih ingin menguji kesaktian Hasan Besari.

Suatu hari dalam perjamuan makam malam, tiba-tiba maha patih berkelakar, “Aku sanggup menghidupkan ayam ini,” katanya menunjuk ayam panggang di depan meja makan. Dengan kesaktiannya, ayam tersebut dipegangnya dan tiba-tiba hidup lagi.

Hasan Besari tidak mau kalah. Ia ingin menghentikan kesombongan sang patih. Saat itu Hasan Besari melihat sebuah telur yang telah dimasak. Dipeganglah telur tersebut, dan atas ijin Allah, telur matang mendadak menetes dan keluarlah anak ayam. Kejadian ini bukan sekali saja.

Beberapa kali Hasan Besari ditantang sang patih mengadu kesaktian. Akan tetapi kesaktian yang dimiliki sang patih tiada apa-apanya dibanding karomah yang diberikan Allah kepada Hasan Besari.

Dalam setiap tantangan, Hasan Besari tidak pernah berkeinginan mengalahkan kesaktian Maha Patih. Yang beliau lakukan hanyalah mengimbangi. Tiada pula keinginan dari beliau untuk mencederai, mencelakakan maupun mengalahkan. Sebab meski Maha Patih orangnya angkuh dan sombong, beliau masih menganggap ia sebagai kerabatnya.

Pada jamuan makan berikutnya, sang patih dengan sombongnya mengajak Hasan Besari keluar istana menuju halaman kaputren. Di situ sang patih menantang Hasan Besari memanah.

Maha Patih mendapat giliran pertama. Ia memanah sebuah pohon besar. Dengan kesaktiannya, pohon besar tersebut terbelah menjadi dua. Melihat kesaktian itu, beberapa orang yang hadir di istana, termasuk raja bersorak-sorai. Maha Patih tidak saja membuat orang-orang bangga, tapi kesaktiannya dianggap mampu mengalahkan menantu raja.

Saat giliran Hasan Besari tiba. Beberapa orang saling berbisik meragukan kesaktian Hasan Besari. Mereka menganggap Hasan Besari adalah seorang penyihir, pembual, pemimpi, dan pesakitan yang gila karena berani menantang kesaktian patih kerajaan. Namun mereka tidak ingat dengan Allah, yang telah memberi Hasan Besari sebuah karomah.

Dengan kelebihannya itu Hasan Besari mampu menandingin kesaktian Maha Patih. Sewaktu melontarkan panah ke arah pohon, mata panah tidak mengenai pohon, hanya melewati. Pohon tidak terbelah seperti yang dilakukan Maha Patih. Beberapa orang kemudian melayangkan ejekan ke Hasan Besari. Dikiranya dia telah meleset.

Hasan Besari terdiam. Lalu dia berkata: “Lihatlah dedaunan pohon itu!” Serunya.

Pohon besar nan rindang tersebut memang tidak tumbang atau terbelah, tetapi semua daunnya berguguran ke tanah tanpa meninggalkan bekas apapun. Sehingga pohon itu lebih mirip pohon kering di padang tandus.

Orang-orang yang menyaksikan kejadian itu sempat tertegun. Padahal panah beliau sama sekali tidak menyentuh pohon alias meleset, lalu mengapa dedaunan bisa terlepas dari ranting-rantingnya. Kalau bukan seorang yang berilmu tinggi, tentu tidak bakal sanggup melakukan hal seperti itu. Hasan Besari adalah orang hebat, orang besar, ulama sekaligus pemimpin. Dalam hati mereka mengakui kebesaran Hasan Besari.

Pada perkembangan selanjutnya, Hasan Besari memboyong isterinya ke Ponorogo. Sebagai catatan, semenjak putri Solo pindah ke Ponorogo, kala itu Ponorogo pernah mendapat julukan sebagai Kota Batik.

Maklum, waktu itu kesenian batik baru terbatas dalam lingkungan keraton. Dan ketika putri keraton Solo diperistri Hasan Basri, maka dibawalah kesenian batik keluar dari keraton menuju Ponorogo. Apalagi saat itu banyak keluarga kraton yang belajar di Pesantren Tegalsari. Tak heran jika kemudian para pemuda-pemudi yang dididik dalam lingkungan Pesantren kemudian menyumbangkan dharma batiknya dalam bidang-bidang kepamongan dan agama.

Daerah perbatikan lama yang sampai sekarang dapat dilihat ialah daerah Kauman yaitu Kepatihan Wetan sekarang. Dari sini kemudian meluas ke desa-desa seperti Ronowijoyo, Mangunsuman, Kertosari, Setono, Cokromenggalan, Kadipaten, Nologaten, Bangunsari, Cekok, Banyudono dan Ngunut. Namun sekarang hampir-hampir tidak pernah ditemukan lagi jejak batik di Ponorogo. Sisa-sisa batik yang masih ada hanya berupa nama-nama jalan yang ada di sekitar Kelurahan Kertosari dan Patihan Wetan.

Sejak Hasan Besari mempersunting putri Keraton Solo, beliau mendapat sebutan Yang Mulia Kanjeng Kyai Hasan Bashari (Besari). Dan saat itu Desa Tegalsari menjadi desa merdeka atau perdikan, yaitu desa istimewa yang bebas dari segala kewajiban membayar pajak kepada kerajaan.


Wallahu A'lam

Karomah Mbah Sholeh Darat, Rubah Bongkahan Batu Jadi Emas

Karomah Mbah Sholeh Darat
Bungkam Kacung Belanda yang Hendak Menyogoknya, Rubah Bongkahan Batu Jadi Emas

Penulis: Al-Faqir Edi Saputra, S.PdI.,Gr.


Muhammad Shaleh ibn Umar Al-Samarani atau Mbah Sholeh Darat dikenal sebagai guru dari para ulama Nusantara. Sebagai Wali Allah, Mbah Shaleh Darat juga dikenal memiliki karomah

Muhammad Shaleh ibn Umar Al-Samarani atau Mbah Sholeh Darat dikenal sebagai guru dari para ulama Nusantara. Di antara murid-muridnya, di kemudian hari jadi ulama terkenal dan berpengaruh. Di antarannya, KH Hasyim Asy'ari pendiri NU dan KH Ahmad Dahlan pendiri Persarikatan Muhammadiyah.

Dalam kitab-kitab yang ditulisnya, dia acap menggunakan nama Syeikh Haji Muhammad Shalih ibn Umar Al-Samarani.

Sematan nama Darat karena beliau tinggal di kawasan dekat pantai utara Semarang, yakni tempat berlabuhnya orang-orang dari luar Jawa, yang lantas juga menjadi nama pesantren, Ponpes Darat.

Hingga kini makam Mbah Sholeh Darat pun menjadi tujuan ziarah banyak orang. Salah seorang wali terkenal yang sering mengunjungi makamnya adalah Gus Miek (Hamim Jazuli).

Mbah Sholeh Darat memiliki pengaruh besar dalam perkembangan Islam di Indonesia. Murid-muridnya kelak terus berdakwah Islamiyah di penjuru tanah air.

Mbah Sholeh Darat juga dikenal nasionalis. Beliau adalah sosok ulama yang menentang penjajahan.

Sebagai Wali Allah, Mbah Shaleh Darat juga dikenal memiliki banyak karomah. Berikut ini adalah kisah ketika Mbah Sholeh Darat hendak disogok Belanda karena keberpihakannya kepada rakyat.

Dikisahkan karena mengetahui pengaruh Mbah Shaleh Darat yang besar, pemerintah Belanda mencoba menyogok Mbah Sholeh Darat. 

Maka diutuslah seseorang untuk menghadiahkann banyak uang kepada Mbah Sholeh, dengan harapan Mbah Sholeh Darat mau berkompromi dengan penjajah Belanda. 

Mengetahui hal ini Mbah Sholeh Darat marah, dan tiba-tiba dia mengubah bongkahan batu menjadi emas di hadapan utusan Belanda itu. 

Namun kemudian Mbah Sholeh Darat menyesal telah memperlihatkan karomahnya di depan orang. Beliau dikabarkan banyak menangis jika mengingat kejadian ini hingga akhir hayatnya.

Kiai Sholeh Darat wafat di Semarang pada hari Jumat Wage tanggal 28 Ramadan 1321 H atau 18 Desember 1903 dan dimakamkan di pemakaman umum 'Bergota' Semarang, dalam usia 83 tahun.

Wallahu A'lam

Keutamaan Salat Tarawih Malam 1-30 dalam Kitab Durratun Nasihin

Keutamaan Salat Tarawih Malam 1-30 dalam Kitab  Durratun Nasihin Oleh: Al-Faqr Al-Jahl Edi Saputra, S.PdI.,Gr. Hadits tentang Fa...