Senin, 23 Februari 2026

Orang-orang akan membicarakan tentang dirimu dalam 3 keadaan

Orang-orang akan membicarakan tentang dirimu dalam 3 keadaan

By Al-Faqr Edi Saputra, S.PdI.,Gr.


1. Ketika mereka tidak memiliki sesuatu yang kamu miliki

2. Ketika mereka tidak mampu menjadi seperti dirimu

3. Ketika mereka tidak mampu untuk menjangkau posisimu saat ini

✍️ Thariq Al-Haritsi

Ditantang KH Hasan Gipo, Nyali Muso Si Tokoh PKI Langsung Ciut

Ditantang KH Hasan Gipo, Nyali Muso Si Tokoh PKI Langsung Ciut

Penulis: Al-Faqir Edi Saputra, S.PdI.,Gr.


Ada sebuah kisah menarik tentang Muso, tokoh PKI yang terkenal berangasan, lekas marah dan senang berkelahi itu.

Suatu ketika, ia terlibat dalam perdebatan tentang Tuhan dengan Kiai Abdul Wahab Hasbullah.

Sebagai seorang atheis, Muso tentu saja tidak mau percaya pada Tuhan. Perdebatan semakin seru dan kasar karena pembawaan Muso yang cepat naik darah.

Beberapa orang yang menyaksikan perdebatan itu merasa cemas juga melihat Muso yang awut-awutan dan badannya jauh lebih kekar dan lebih tegap dibanding perawakan Kiai Wahab yang pendek lagi kecil.

Tapi Kiai Wahab lama-lama berpikir juga bahwa tidak ada gunanya melanjutkan diskusi dengan “orang jahil” macam Muso.

Bukan karena gentar dengan tubuh Muso yang bagai beruang. Kiai Wahab, pendekar pencak silat itu, pernah dikeroyok 3-4 penyamun yang tubuhnya jauh lebih besar daripada Muso dalam perjalanan yang angker antara Mekkah dan Madinah sekitar tahun 1920-1925, dan mengalahkan mereka.

Muso satu saja jelas bukan soal. Yang menjadi pikiran Kiai Wahab justru diskusi itu, adu hujjah untuk mencari kebenaran itu. Diskusi dengan Muso yang hanya mengandalkan “otot dan cocot” (main jotos dan mulut besar), Kiai Wahab merasa buang-buang tenaga saja. Senjata manusia adalah akal pikiran dan akhlak mulia, bukan kepalan tinju.

Haji Hasan Sagipoddin atau H Hasan Gipo, Presiden Tanfidziyah HBNU ketika itu, 1926, mengambil alih tempat Kiai Wahab dalam berdebat dengan Muso.

Haji Hasan Gipo terkenal sebagai seorang tokoh yang serba bisa, bisa bermain menurut irama gendang, main halus, atau main kasar. Singkat kata, semua cara bisa ia layani.

Dan Muso ditantang untuk bersamanya menghampiri jalan kereta api Surabaya-Batavia di dekat Krian (antara Surabaya-Mojokerto), menyambut kereta api ekspres yang sedang berlari kencang dengan batang leher masing-masing di rel.

Begitu kereta api nongol dalam kecepatan tinggi, keduanya harus meletakkan batang leher masing-masing di atas rel agar digilas lokomotif serta seluruh rangkaian kereta api, hingga tubuh mereka hancur berkeping-keping.

Nah, dengan jalan demikian, keduanya akan memperoleh bukti atau keyakinan yang ainul yaqin haqqul yaqiüin – tentang adanya Allah SWT.

Tapi Muso yang bertubuh kekar dan besar itu seolah menciut saja. Ia gentar, takut setakut-setakutnya pada tantangan itu.

Wallahu A'lam

Dulu Ijazah Madrasah Dibuang-buang, Sosok Inilah yang Memperjuangkannya Hingga Diakui Negara. Terima Kasih, Prof. Zakiah Daradjat!

Dulu Ijazah Madrasah Dibuang-buang, Sosok Inilah yang Memperjuangkannya Hingga Diakui Negara. Terima Kasih, Prof. Zakiah Daradjat! 

Disadur oleh: Al-Faqr Edi Saputra, S.PdI.,Gr.



Pernahkah terbayang di benak kita, ada masa di mana lulusan Madrasah dianggap "warga kelas dua" di negeri sendiri?

Dulu, ijazah Madrasah sering kali hanya dianggap sebagai pelengkap administrasi agama. Anak-anak Madrasah sulit masuk universitas umum, apalagi bermimpi jadi dokter, insinyur, atau pejabat negara. Pintu masa depan mereka seolah terkunci rapat hanya karena pilihan sekolahnya.

Namun, sejarah berubah berkat keteguhan seorang perempuan hebat asal Minangkabau: Prof. Dr. Hj. Zakiah Daradjat.

Diplomasi "SKB Tiga Menteri" yang Bersejarah
Di tahun 1970-an, posisi madrasah sangat terjepit. Kurikulumnya dianggap tidak sebanding dengan sekolah umum (SD/SMP/SMA). Di sinilah Zakiah Daradjat turun tangan. Sebagai seorang akademisi yang juga pejabat di Departemen Agama, ia tidak tinggal diam melihat ketidakadilan ini.

Dengan kecerdasan diplomasinya, ia membidani lahirnya Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Menteri tahun 1975. Inilah "Piagam Perjuangan" bagi santri Indonesia. Berkat kebijakan ini, negara akhirnya mengakui: Ijazah Madrasah setara dengan ijazah sekolah umum.

Tanpa perjuangan beliau, mungkin tidak ada ribuan alumni madrasah yang hari ini bisa menjabat sebagai menteri, rektor, hingga profesional hebat di berbagai bidang.

Dari Surau Minang Hingga Memukau Presiden Mesir
Mental pejuang Zakiah bukan datang tiba-tiba. Sejak usia 7 tahun, ia sudah ditempa disiplin tinggi antara sekolah umum dan sekolah agama. Kegigihannya membawanya terbang ke Mesir pada tahun 1956.

Bayangkan, di era itu ia menjadi satu-satunya mahasiswi perempuan Indonesia di Universitas Ain Shams, Kairo! Prestasinya begitu gemilang di bidang Psikologi Islam hingga Presiden Mesir, Gamal Abdul Nasir, langsung memberikan "Medali Ilmu Pengetahuan" kepadanya.

Dunia internasional mengakuinya, namun hatinya tetap tertambat untuk memajukan pendidikan di tanah air.

"Hamka Versi Muslimah" yang Tetap Bersahaja
Meski namanya harum di Timur Tengah dan menjadi perempuan pertama yang duduk di kursi pimpinan MUI, Zakiah Daradjat adalah pribadi yang sangat lembut. Generasi 70-an hingga 90-an pasti ingat suara sejuknya saat memberikan ceramah di RRI dan TVRI.

Bahkan di masa pensiunnya, ia tetap membuka pintu rumahnya untuk konsultasi psikologi bagi siapa saja. Hebatnya, beliau seringkali tak mau menerima bayaran, terutama dari mereka yang kurang mampu. Baginya, ilmu adalah pengabdian, bukan sekadar komoditas.

Terima kasih, Prof. Zakiah Daradjat. Setiap langkah sukses anak madrasah hari ini adalah jejak perjuangan yang pernah Anda torehkan. Tanpamu, ijazah kami mungkin masih dianggap sebelah mata.

Mari kita kirimkan doa terbaik (Al-Fatihah) untuk beliau yang telah berpulang di usia 83 tahun, namun warisannya tetap hidup di setiap sudut Madrasah di seluruh penjuru Indonesia. 

Sumber: Wikipedia - "Zakiah Daradjat" 
Sumber: Republika - "Profil Prof. Dr. Hj. Zakiah Daradjat"

Buku Karya terbaik Beliau Pernah dan sampai sekarang menjadi salah satu Referensi setiap goresanku, dan para Ilmuan dunia.

Walllahu A'lam

Jumat, 20 Februari 2026

Penjelasan Gus Baha tentang Shalat Tarawih 4 Rakaat Sekali Salam dan 2 Rakaat Sekali Salam.

Penjelasan Gus Baha tentang Shalat Tarawih 4 Rakaat Sekali Salam dan 2 Rakaat Sekali Salam.

Oleh: Al-Faqr Edi Saputra, S.PdI.,Gr.
Sumber: NU Online

Rais Syuriyah PBNU, KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha. (Foto: Dok. Pesantren Al-Falah Ploso) Syarif Abdurrahman Kontributor Download PDF Jakarta, NU Online Rais Syuriyah PBNU, KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau akrab disapa Gus Baha menjelaskan bahwa kontroversi kasus shalat tarawih dua rakaat satu salam dengan empat rakaat satu salam sama-sama sah. 

Menurut Gus Baha, tarawih yang dilakukan dengan model 4 rakaat dengan satu salam tetap sah karena pernah dilakukan Nabi Muhammad. Hanya saja memang dalam redaksi hadits lain, tarawih dilakukan dua rakaat satu salam. Sampai beberapa rakaat.

"Sehingga kalau ada shalat tarawih empat rakaat tanpa tasyahud sebelumnya, sebetulnya secara fiqih kita sepakat itu sah," jelasnya seperti dikutip dari pada Rabu (27/3/2022) lewat akun Youtube Islamadina Official. 

Gus Baha berargumen, tarawih 4 rakaat sekali salam tetap sah karena Nabi Muhammad pernah melakukannya berdasarkan hadits dari Aisyah, 
Nabi bersabda:
 مَا كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلّ الله عليه و سلّم يَزِيْدُ فِي رَمَضَانَ وَ لاَ فِي غَيْرِهِ إِحْدَ عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّى أَرْبَعًا، فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَ طُوْلَـهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّى أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَ طُوْلَـهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّى ثَلاَثاً 

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menambah bilangan pada bulan Ramadhan dan tidak pula pada bulan selain Ramadhan dari 11 Rakaat. Beliau shalat 4 rakaat sekali salam, maka jangan ditanya tentang kebagusan dan panjangnya, kemudian shalat 4 rakaat lagi sekali salam maka jangan ditanya tentang bagus dan panjangnya, kemudian shalat witir 3 rakaat.” (HR Muslim) "


Jika beranggapan bahwa empat rakaat tarawih tidak ada tasyahud awal, tidak ada ulama yang mengatakan tasyahud awal itu wajib," bebernya.  

Gus Baha lalu bercerita, Nabi Muhammad juga pernah melakukan shalat tarawih lebih dari empat rakaat baru salam. 
Kejadian tersebut bisa dibaca dalam hadits riwayat Aisyah, Rasulullah saw bersabda:
 كُناَّ نُعِدُّ لَهُ سِوَاكَهُ وَ طَهُوْرَهُ، فَيَـبْعَثُهُ اللهُ مَا شَاءَ أَنْ يَـبْعَثَهُ مِنَ الَّيْلِ، فَيَتَسَوَّكُ وَ يَتَوَضَأُ وَ يُصَلِى تِسْعَ رَكْعَةٍ لاَ يَـجْلِسُ فِيْهَا إِلاَّ فِي الثَّامِنَةِ فَيَذْكُرُ اللهَ وَ يَحْمَدُهُ وَ يَدْعُوْهُ، ثُمَّ يَنْهَضُ وَ لاَ يُسَلِّمُ ثُمَّ يَقُوْمُ فَيُصَلِّى التَّاسِعَةَ، ثُمَّ يَقْعُدُ فَيَذْكُرُ اللهَ وَ يَحْمَدُهُ وَ يَدْعُوْهُ ثُمَّ يُسَلِّمُ تَسْلِيْمًا يُسْمِعْناَ ثُمَّ يُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ مَا يُسَلِمُ وَ هُوَ قَاعِدٌ (رواه مسلم)
 “Kami dahulu biasa menyiapkan siwak dan air wudhu untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, atas kehendak Allah beliau selalu bangun malam hari, lantas tatkala beliau bangun tidur langsung bersiwak kemudian berwudhu. Kemudian beliau melakukan shalat malam atau tarawih 9 rakaat yang beliau tidak duduk kecuali pada rakaat yang kedelapan lantas membaca pujian kepada Allah dan shalawat dan berdoa dan tidak salam, kemudian bangkit berdiri untuk rakaat yang kesembilan kemudian duduk tahiyat akhir dengan membaca dzikir, pujian kepada Allah, shalawat dan berdoa terus salam dengan suara yang didengar oleh kami. Kemudian beliau melakukan shalat lagi 2 rakaat dalam keadaan duduk.”

(HR. Muslim 1233 marfu’, mutawatir). 
"Nabi pernah shalat witir lebih dari 4 rakaat tidak duduk sama sekali, hanya terakhir duduk terus salam. Ini Nabi Muhammad," ungkap Gus Baha. 

Bagi Gus Baha, empat rakaat tanpa tasyahud  dikatakan sah karena tidak ada ulama mengatakan bahwa tasyahud awal itu wajib. Khasnya hukum sunah itu ketika ditinggal tidak membatalkan shalat. 

Jadi ketika ada tarawih empat rakaat berturut-turut berati tidak ada masalah karena yang ditinggalkan tasyahud awal yang diyakini hanya sunah.  
"Bagi yang menganggap ini masalah, dasarnya tidak cocok lalu dijadikan masalah. Sebenarnya yang mengatakan itu masalah, ia juga beranggapan bahwa tasyahud awal itu sunah,' tandas Gus Baha.

Wallahu A'lam
Sumber selengkapnya baca: https://www.nu.or.id/nasional/penjelasan-gus-baha-tentang-shalat-tarawih-4-rakaat-sekali-salam-dan-2-rakaat-sekali-salam-smnRS

Minggu, 08 Februari 2026

PRESIDEN PRABOWO TERHARU DI TENGAH NU

PRESIDEN PRABOWO TERHARU DI TENGAH NU
Oleh: Al-Faqir Edi Saputra, S.PdI.,Gr. 


Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menghadiri dan memberikan pidato pada Mujahadah Kubro Satu Abad Nahdlatul Ulama (NU) di Malang, Jawa Timur.

Dalam kesempatan tersebut, Presiden Prabowo mengungkapkan rasa bahagia dan semangat setiap kali berada di tengah keluarga besar NU. Ia menilai NU menghadirkan kesejukan, getaran persaudaraan, serta semangat kesatuan dan keguyuban yang menjadi fondasi penting bagi persatuan bangsa.

Presiden juga menyampaikan apresiasi khusus kepada para kiai, ulama, santri, serta kaum ibu NU yang hadir. Menurutnya, kekuatan moral dan kebersamaan warga NU memberikan energi dan keberanian tersendiri baginya untuk terus berbakti dan mengabdi kepada seluruh rakyat Indonesia tanpa kecuali.

Dalam momentum peringatan 100 tahun NU, Presiden Prabowo menegaskan bahwa sejarah panjang NU telah membuktikan perannya sebagai pilar kebesaran bangsa. Ia menilai NU selalu tampil di garis depan setiap kali negara menghadapi masa-masa sulit dan ancaman, serta konsisten menjaga nilai-nilai keislaman yang moderat, damai, dan berakar kuat pada kebangsaan.

Acara Mujahadah Kubro Satu Abad NU ini menjadi simbol kuat sinergi antara ulama dan umara dalam menjaga persatuan, kedamaian, dan harapan akan terwujudnya Indonesia yang adil, makmur, dan bermartabat.

📸 Foto bawah milik Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden

Wallahu A'lam
Wallahulmuwafiqu Ila Aqwamit Thariq

Presiden Prabowo Subianto: Tiap Kali Negara Dalam Bahaya, NU Hadir Menyelamatkan

𝙋𝙧𝙚𝙨𝙞𝙙𝙚𝙣 𝙋𝙧𝙖𝙗𝙤𝙬𝙤 𝙎𝙪𝙗𝙞𝙖𝙣𝙩𝙤: 𝙏𝙞𝙖𝙥 𝙆𝙖𝙡𝙞 𝙉𝙚𝙜𝙖𝙧𝙖 𝘿𝙖𝙡𝙖𝙢 𝘽𝙖𝙝𝙖𝙮𝙖, 𝙉𝙐 𝙃𝙖𝙙𝙞𝙧 𝙈𝙚𝙣𝙮𝙚𝙡𝙚𝙢𝙖𝙩𝙠𝙖𝙣
Oleh: Al-Faqir Edi Saputra, S.PdI.,Gr.


Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menyatakan Nahdlatul Ulama (NU) telah membuktikan diri sebagai salah satu pilar kebangsaan Indonesia. 

Ia menilai NU selalu hadir dan berperan dalam menyelamatkan bangsa setiap kali negara berada dalam kondisi bahaya.

Hal tersebut disampaikan Prabowo saat menghadiri Mujahadah Kubro Satu Abad NU yang digelar di Stadion Gajayana, Malang, Jawa Timur, Minggu (8/2/2026). 

Dalam sambutannya, Prabowo menegaskan bahwa kiprah NU selama lebih dari satu abad menunjukkan komitmen organisasi tersebut terhadap keutuhan dan kebesaran bangsa Indonesia.

Prabowo mengingatkan kembali sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia, khususnya pertempuran besar di Surabaya pada tahun 1945. 

Ia menilai bangsa Indonesia berhasil mempertahankan kemerdekaannya dalam menghadapi kekuatan negara-negara besar dunia, termasuk Inggris sebagai pemenang Perang Dunia Kedua.

Menurut Prabowo, keberhasilan tersebut tidak terlepas dari peran para kiai, ulama, dan rakyat Jawa Timur, khususnya Surabaya. 

Ia menegaskan bahwa perjuangan tersebut menjadi bukti bahwa bangsa Indonesia tidak lagi mau tunduk kepada penjajahan dalam bentuk apa pun.

Selain itu, Prabowo juga menyampaikan apresiasi kepada NU atas perannya dalam menjaga persatuan, kedamaian, dan stabilitas nasional. 

Ia mengucapkan terima kasih kepada para kiai, ulama, serta seluruh warga Nahdliyin yang dinilainya konsisten berkontribusi bagi ketenteraman kehidupan berbangsa dan bernegara.

Prabowo menilai NU sebagai organisasi kemasyarakatan Islam yang senantiasa setia menjaga martabat dan kebesaran bangsa Indonesia. 

Ia berharap NU terus berperan aktif dalam mencerdaskan, mensejahterakan, menyatukan, serta menjaga toleransi antarumat beragama di Indonesia.

Foto bawah : Setkab RI

Wallahu A'lam
Wallahulmuwafiqu Ila Aqwamit Thariq

Pesan KH. Hasan Abdullah Sahal untuk orang tua yang masih enggan memasukan putra/i nya ke pesantren.

Pesan KH. Hasan Abdullah Sahal untuk orang tua yang masih enggan memasukan putra/i nya ke pesantren.

Penulis: Edi Saputra, S.PdI.,Gr.



1. Terlalu memanjakan anak itu akan menghambat masa depannya. Sebab nanti mereka gak bisa mandiri, gak paham agama, gak ngerti Qur’an, gak punya akhlaq, ujung-ujungnya gak bisa jadi amal jariyahmu kelak kalau kamu telah tiada.

2. Ketika anak mau masuk pondok apalagi menghafal Qur’an gak usah di tangisi. Itu rezeki, kamu harus bersyukur

3. Coba bayangkan jika anak-anakmu hidup di luar sekarang. Apa iya kamu tega setiap jam 4 pagi memaksa mereka untuk bangun Tahajud? Apa iya setiap hari kamu ada waktu menyimak setoran hafalan mereka?

4. Coba lihat dirimu sekarang sudah yakinkah kira-kira sengan sholatmu, puasamu, bisa membuat kamu masuk surga-Nya Allah?5. Jika kamu yakin amalmu bisa menjaminmu masuk surga yo sak karepmu. Urusen anakmu dengan budaya barat yang sekarang lagi trend diluar sana.

6. Anak-anak kecil wes podo pinter dolanan hp buka situs apa saja bisa bangga punya ini itu: baju, sepatu, tas ber-merk, lha pas disuruh ngaji blekak blekuk. Ditanya tentang agama prengas-prenges, arep dadi opo?

7. Kamu hanya dititipi mereka, nanti kamu akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Kira-kira kalau anakmu lebih bangga kenal artis, lebih bangga dengan benda bermerk, lebih seneng menghafal lagu ora genah, gak kenal Gusti Allah, kanjeng Nabi, gak bisa baca dan paham Al Qur’an, gak ngerti budi pekerti, lha kamu mau jawab apa kelak dihadapan Allah?

8. Apa hakmu menghalangi anak-anakmu lebih dekat dengan pemiliknya dengan jalan tholabul ilmi di lingkungan yang mendukung mereka menjadi lebih arif dan berbudi? Ingat kamu hanya perantara dipinjami, dititipi dan diamanahi.


Wallahu A'lam

Keutamaan Salat Tarawih Malam 1-30 dalam Kitab Durratun Nasihin

Keutamaan Salat Tarawih Malam 1-30 dalam Kitab  Durratun Nasihin Oleh: Al-Faqr Al-Jahl Edi Saputra, S.PdI.,Gr. Hadits tentang Fa...