Senin, 07 September 2026

Dari Tebuireng Menuju Nahdlatul Ulama: Jejak Pengabdian KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), Ketua Umum PBNU 2026–2031

Dari Tebuireng Menuju Nahdlatul Ulama: Jejak Pengabdian KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), Ketua Umum PBNU 2026–2031


Sosok Kiai di Persimpangan Tradisi, Pesantren, dan Zaman

Nama KH Abdul Hakim Mahfudz, yang lebih akrab disapa Gus Kikin, semakin mendapat perhatian luas setelah ditetapkan sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmat 2026–2031.

Penetapan tersebut berlangsung dalam rangkaian Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada 27–31 Agustus 2026.

Bagi banyak orang, terpilihnya Gus Kikin bukan sekadar pergantian kepemimpinan organisasi. Di balik sosoknya terdapat perjalanan panjang yang mempertemukan berbagai dunia: pesantren, keulamaan, pendidikan, dunia usaha, organisasi, hingga pengabdian kepada Nahdlatul Ulama.

Ia tumbuh dari lingkungan keluarga ulama, tetapi perjalanan hidupnya tidak hanya berlangsung di balik tembok pesantren. Ia pernah menempuh pendidikan formal, mengenyam pengalaman profesional, berkecimpung dalam dunia bisnis, dan kemudian kembali semakin dalam ke dunia pesantren hingga dipercaya menjadi salah satu tokoh penting NU.

Dari Tebuireng, salah satu pusat tradisi keilmuan Islam paling berpengaruh di Nusantara, Gus Kikin kini membawa amanah yang jauh lebih besar: memimpin PBNU selama lima tahun ke depan.

⚜️ Lahir dari Keluarga Ulama

KH Abdul Hakim Mahfudz lahir pada 17 Agustus 1958. Ia merupakan putra dari KH Mahfudz Anwar dan Nyai Hj. Abidah Ma'shum.

Sejak kecil, kehidupan Gus Kikin tidak dapat dipisahkan dari lingkungan pesantren. Pendidikan agama pertama-tama diperolehnya dari orang tua. Pada masa itu, keluarganya berada di lingkungan Pondok Pesantren Sunan Ampel, Jombang.

Lingkungan semacam inilah yang menjadi ruang pertama bagi Gus Kikin untuk mengenal agama, tradisi pesantren, adab kepada guru, kehidupan masyarakat, dan nilai-nilai ke-NU-an.

Namun menariknya, perjalanan pendidikannya kemudian tidak berjalan dalam pola yang sepenuhnya sama dengan banyak anak kiai yang sejak kecil hingga dewasa menempuh pendidikan di pesantren.

⚜️ Gus Kikin juga memasuki dunia pendidikan formal.

Ia bersekolah di SMP Negeri Jombang, kemudian melanjutkan pendidikan di SMA Negeri Jombang. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan ke Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta.

Perjalanan tersebut memberi warna tersendiri dalam pembentukan kepribadiannya. Tradisi pesantren yang diwarisi dari keluarga berpadu dengan pengalaman pendidikan formal dan kehidupan profesional yang kemudian dijalaninya.

⚜️ Tumbuh dalam Mata Rantai Keluarga Tebuireng

Dari garis keluarganya, Gus Kikin memiliki hubungan genealogis dengan lingkungan ulama besar Jombang, khususnya keluarga Tebuireng.

Ibunya, Nyai Hj. Abidah Ma'shum, berasal dari keluarga besar ulama Tebuireng. Melalui jalur keluarga tersebut, Gus Kikin memiliki hubungan dengan Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari, pendiri Nahdlatul Ulama sekaligus pendiri Pondok Pesantren Tebuireng.

Hubungan nasab dengan keluarga ulama tentu bukan sekadar kebanggaan genealogis. Dalam tradisi pesantren, hubungan keluarga juga membawa tanggung jawab moral untuk menjaga nilai-nilai yang telah diwariskan oleh para pendahulu.

KH Hasyim Asy'ari membangun tradisi keilmuan, kepesantrenan, kebangsaan, dan perjuangan yang kemudian menjadi salah satu fondasi penting dalam perjalanan Nahdlatul Ulama.

Karena itu, ketika Gus Kikin akhirnya dipercaya memimpin PBNU, terdapat kesinambungan sejarah yang menarik: seorang keturunan keluarga Tebuireng kembali mendapat amanah untuk mengabdi dalam organisasi yang dahulu didirikan oleh leluhurnya.

Namun amanah itu tentu bukan hanya tentang nama besar keluarga. Ia harus dibuktikan melalui kerja, pengabdian, kemampuan membaca zaman, serta kesediaan untuk melayani umat.

⚜️ Tidak Langsung Menjadi Kiai

Salah satu sisi menarik dari perjalanan hidup Gus Kikin adalah pengalaman profesionalnya sebelum sepenuhnya dikenal sebagai pengasuh pesantren.

Ia pernah memasuki dunia kerja dan profesional. Salah satu pengalaman pentingnya adalah ketika dipercaya menjadi kepala cabang wilayah Cilegon PT Djakarta Lloyd.

Selain itu, ia juga berkecimpung dalam dunia perdagangan komoditas, di antaranya pinang dan minyak atsiri.

Pengalaman tersebut membuat perjalanan hidup Gus Kikin memiliki spektrum yang cukup luas. Ia tidak hanya mengenal kehidupan pesantren dan masyarakat dari perspektif seorang kiai, tetapi juga memahami dinamika dunia usaha, profesionalisme, organisasi, dan ekonomi.

Dalam perjalanan berikutnya, Gus Kikin ikut mendirikan PT Energi Mineral Langgeng yang bergerak di sektor minyak dan gas bumi. Ia juga terlibat dalam pendirian PT Bama Berita Sarana (BBS Group) yang bergerak di bidang media penyiaran berjaringan.

Ia pun pernah terlibat dalam kepengurusan Kamar Dagang dan Industri (Kadin).

Pengalaman panjang di dunia usaha tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan hidupnya. Ia berhadapan dengan persoalan-persoalan yang berbeda dari dunia pesantren: bagaimana mengelola organisasi, membangun jaringan, memahami ekonomi, membaca peluang, dan mengambil keputusan.

Semua pengalaman itu kemudian menjadi bekal tersendiri ketika ia kembali semakin dekat dengan dunia pesantren dan organisasi keumatan.

⚜️ Kembali ke Tebuireng

Nama Gus Kikin semakin kuat dikenal publik pesantren ketika ia berada di lingkungan Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang.

Ketika KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) dipercaya menjadi pengasuh Tebuireng, Gus Kikin berada di sisi beliau sebagai wakil pengasuh.

Posisi tersebut membuatnya semakin dekat dengan dinamika kehidupan pesantren sekaligus memperluas pengalamannya dalam mengelola lembaga pendidikan dan keumatan.

Gus Sholah sendiri dikenal sebagai tokoh yang memiliki perhatian besar terhadap pendidikan, kebangsaan, kemanusiaan, dan pengembangan pesantren.

Berada di samping Gus Sholah tentu menjadi pengalaman penting bagi Gus Kikin. Ia tidak hanya belajar mengenai pengelolaan pesantren, tetapi juga mengenai bagaimana seorang kiai menghadapi persoalan masyarakat dan bangsa.

Setelah Gus Sholah wafat, amanah kepengasuhan Tebuireng kemudian berlanjut kepada Gus Kikin.

Dengan demikian, perjalanan Gus Kikin memperlihatkan sebuah proses yang panjang. Ia bukan sosok yang tiba-tiba muncul di panggung organisasi. Sebelum menerima amanah yang lebih besar, ia telah melewati berbagai fase kehidupan: sebagai anak kiai, pelajar, profesional, pengusaha, pengelola lembaga, wakil pengasuh, hingga pengasuh pesantren.

⚜️ Mengabdi untuk NU Jawa Timur

Perjalanan Gus Kikin dalam organisasi Nahdlatul Ulama semakin menguat ketika ia dipercaya memimpin Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur.

Pada tahun 2024, ia terpilih secara aklamasi sebagai Ketua PWNU Jawa Timur masa khidmat 2024–2029 dalam Konferensi Wilayah ke-18 NU Jawa Timur yang berlangsung di Tebuireng.

Kepercayaan tersebut menunjukkan bahwa kiprah Gus Kikin tidak hanya dipandang dalam lingkup keluarga dan pesantren, tetapi juga dalam lingkup organisasi NU.

Jawa Timur sendiri merupakan salah satu basis terpenting Nahdlatul Ulama. Di wilayah inilah terdapat ribuan pesantren, kiai, ulama, madrasah, lembaga pendidikan, serta jaringan warga NU yang sangat luas.

Memimpin PWNU Jawa Timur bukanlah tugas ringan.

Dibutuhkan kemampuan untuk mempertemukan berbagai karakter, menjaga hubungan antara ulama dan masyarakat, mengelola organisasi, sekaligus merawat tradisi NU agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.

Pengalaman tersebut kemudian menjadi salah satu bagian penting dari perjalanan Gus Kikin menuju tingkat nasional.

⚜️ Muktamar ke-35 dan Jalan Menuju PBNU

Pada Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Gus Kikin menjadi salah satu nama yang diperhitungkan dalam bursa calon Ketua Umum PBNU.

Lima nama yang menyatakan kesediaan maju sebagai calon Ketua Umum PBNU adalah:

1. KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin)
2. KH Zulfa Mustofa
3. KH Abdussalam Shohib (Gus Salam)
4. KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya)
5. KH Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin)

Dalam proses penjaringan, Gus Kikin memperoleh dukungan suara terbanyak dan berada di posisi pertama.

Nama-nama tersebut kemudian masuk dalam mekanisme pemilihan melalui Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA).

AHWA merupakan mekanisme yang digunakan dalam tradisi NU untuk menentukan kepemimpinan tertinggi melalui musyawarah para ulama yang dipercaya.

Sembilan anggota AHWA yang tercantum dalam berita acara tersebut adalah:

- KH Nurul Huda Djazuli
- TGK. KH Nuruzzahri Yahya
- Dr. KH Baharuddin HS
- KH Miftachul Akhyar
- KH Afifuddin Muhajir
- KH Anwar Iskandar
- KH Anwar Mansur
- Dr. KH Abun Bunyamin
- Prof. KH Said Aqil Siroj

Setelah melalui musyawarah, AHWA akhirnya mengambil keputusan.

Pada Senin, 31 Agustus 2026, KH Anwar Iskandar membacakan keputusan bahwa AHWA secara mufakat memilih KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU masa khidmat 2026–2031.

Keputusan tersebut kemudian dituangkan dalam berita acara Muktamar ke-35 NU dan ditandatangani oleh seluruh anggota AHWA.

⚜️ Melengkapi Kepemimpinan PBNU 2026–2031

Terpilihnya Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU melengkapi struktur kepemimpinan PBNU untuk masa khidmat 2026–2031.

Sehari sebelumnya, pada 30 Agustus 2026, KH Miftachul Akhyar telah dipilih sebagai Rais Aam PBNU melalui mekanisme AHWA.

Dengan demikian, kepemimpinan NU periode baru mempertemukan dua amanah besar: Rais Aam sebagai pemegang otoritas tertinggi dalam bidang keulamaan dan Ketua Umum sebagai pemimpin tanfidziyah yang menjalankan roda organisasi.

Bagi Gus Kikin, amanah sebagai Ketua Umum PBNU tentu jauh lebih luas daripada kepemimpinan di tingkat pesantren ataupun wilayah.

PBNU memiliki jaringan yang membentang dari pusat hingga daerah, dari pesantren hingga lembaga pendidikan, dari bidang sosial-keagamaan hingga ekonomi, kesehatan, pendidikan, dakwah, pemberdayaan masyarakat, dan berbagai bidang lainnya.

Karena itu, kepemimpinan Gus Kikin akan berhadapan dengan tantangan yang besar dan beragam.

⚜️ Antara Warisan Lama dan Tantangan Baru

Menarik melihat perjalanan Gus Kikin karena ia berada di antara dua dunia.

Di satu sisi, ia merupakan bagian dari tradisi pesantren yang sangat kuat. Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga ulama dan kini menjadi pengasuh salah satu pesantren paling bersejarah di Indonesia.

Di sisi lain, ia memiliki pengalaman di dunia profesional dan usaha.

Perpaduan tersebut dapat menjadi modal penting untuk menghadapi tantangan NU di masa mendatang.

NU hari ini tidak hanya berbicara tentang pengajian dan pesantren. Organisasi ini juga berhadapan dengan persoalan pendidikan, ekonomi umat, perkembangan teknologi, media, perubahan sosial, generasi muda, kesehatan, lingkungan, hingga dinamika kehidupan kebangsaan.

Seorang pemimpin NU dituntut mampu menjaga akar tradisi sekaligus memahami perubahan.

Tradisi tidak boleh ditinggalkan, tetapi perubahan juga tidak bisa dihindari.

Di sinilah pengalaman Gus Kikin menjadi menarik. Ia lahir dari pesantren, pernah berjalan di dunia profesional, mengenal dunia usaha, kemudian kembali mengabdi di pesantren dan organisasi NU.

Perjalanan tersebut memberinya pengalaman dari berbagai sisi kehidupan masyarakat.

⚜️ Tebuireng sebagai Rumah Pengabdian

Nama Tebuireng tidak dapat dipisahkan dari perjalanan Gus Kikin.

Tebuireng bukan sekadar sebuah pesantren. Ia adalah salah satu pusat sejarah perkembangan Islam dan Nahdlatul Ulama di Indonesia.

Di tempat inilah KH Hasyim Asy'ari membangun pesantren dan melahirkan tradisi keilmuan yang pengaruhnya terus terasa hingga sekarang.

Dari Tebuireng pula lahir banyak ulama, intelektual, pendidik, dan tokoh masyarakat.

Ketika Gus Kikin kemudian menjadi pengasuh Tebuireng, ia berada di dalam mata rantai panjang sejarah tersebut.

Kini, ketika ia dipercaya memimpin PBNU, amanah itu seakan membawa perjalanan Tebuireng ke ruang pengabdian yang lebih luas.

Namun tantangannya juga semakin besar.

Menjadi penerus tradisi tidak cukup hanya dengan menjaga apa yang sudah ada. Penerus juga dituntut mampu membawa nilai-nilai lama agar tetap hidup dalam keadaan zaman yang terus berubah.


⚜️ Seorang Kiai dengan Pengalaman yang Beragam

Gus Kikin merupakan gambaran sosok kiai dengan latar pengalaman yang cukup beragam.

Ia memiliki akar pesantren yang kuat, tetapi pernah menjalani pendidikan formal di luar lingkungan pesantren. Ia pernah bekerja secara profesional, terjun dalam dunia usaha, terlibat dalam organisasi bisnis, mengelola lembaga pesantren, memimpin organisasi NU, hingga akhirnya menerima amanah sebagai Ketua Umum PBNU.

Pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang yang membentuk dirinya.

Dalam konteks kepemimpinan NU, pengalaman di luar pesantren dapat menjadi jembatan untuk memahami dunia masyarakat yang lebih luas.

Sementara akar pesantren menjadi pegangan agar perubahan tidak membuat organisasi kehilangan jati diri.

Keduanya dapat berjalan berdampingan.

Pesantren memberikan kedalaman nilai. Dunia profesional memberikan pengalaman pengelolaan. Organisasi memberikan ruang pengabdian. Sedangkan masyarakat menjadi tempat seluruh nilai itu diuji dan diwujudkan.

⚜️ Amanah Besar di Pundak Gus Kikin

Terpilihnya seseorang sebagai Ketua Umum PBNU bukanlah akhir perjalanan. Justru di situlah tanggung jawab yang lebih besar dimulai.

Ada jutaan warga NU yang berharap organisasi ini terus menjadi rumah besar yang mampu memberikan manfaat.

Ada pesantren yang membutuhkan penguatan. Ada lembaga pendidikan yang perlu dikembangkan. Ada generasi muda yang membutuhkan ruang. Ada masyarakat kecil yang membutuhkan pemberdayaan. Ada tantangan ekonomi, teknologi, sosial, dan kebangsaan yang terus berkembang.

Semua itu membutuhkan kepemimpinan yang tidak hanya pandai berbicara, tetapi juga mampu bekerja.

Gus Kikin kini berada pada posisi tersebut.

Pengalamannya sebagai pengasuh pesantren, ketua PWNU Jawa Timur, serta pengalaman panjang di dunia profesional dan usaha akan menjadi modal untuk menjalankan amanah baru.

Namun pada akhirnya, ukuran keberhasilan seorang pemimpin bukanlah seberapa tinggi jabatannya, melainkan seberapa besar manfaat yang mampu ditinggalkan.

⚜️ Dari Keluarga Ulama, Kembali untuk Mengabdi kepada Umat

Perjalanan hidup KH Abdul Hakim Mahfudz memperlihatkan sebuah garis yang menarik.

Ia lahir dari keluarga ulama. Tumbuh dalam lingkungan pesantren. Menempuh pendidikan formal. Berjalan di dunia profesional dan usaha. Kemudian kembali semakin dekat dengan pesantren. Mendampingi Gus Sholah di Tebuireng. Meneruskan kepengasuhan Tebuireng. Memimpin PWNU Jawa Timur. Dan kini menerima amanah sebagai Ketua Umum PBNU.

Perjalanan itu bukan jalan yang pendek.

Ada pengalaman, proses, tanggung jawab, dan berbagai fase kehidupan yang telah dilalui.

Karena itu, ketika nama Gus Kikin disebut sebagai Ketua Umum PBNU masa khidmat 2026–2031, yang terlihat bukan hanya seorang tokoh yang terpilih dalam sebuah muktamar.

Di belakangnya terdapat sejarah keluarga, tradisi Tebuireng, pengalaman dunia usaha, perjalanan organisasi, dan kehidupan pesantren yang panjang.

Kini, semua pengalaman tersebut bertemu dalam satu amanah besar: mengabdi untuk Nahdlatul Ulama dan umat.

⚜️ Menjaga Akar, Menatap Masa Depan

Kepemimpinan Gus Kikin akan berjalan dalam sebuah zaman yang berbeda dengan masa ketika para pendiri NU membangun organisasi ini.

Teknologi berkembang begitu cepat. Generasi muda memiliki cara berkomunikasi yang berbeda. Persoalan ekonomi semakin kompleks. Informasi bergerak tanpa batas. Dunia pesantren juga menghadapi tantangan baru.

Tetapi satu hal tidak berubah: masyarakat tetap membutuhkan ilmu, keteladanan, akhlak, dan pemimpin yang mampu menghadirkan ketenangan.

Di sinilah pesantren memiliki peran penting.

Dan Gus Kikin datang dari rumah besar pesantren.

Ia membawa warisan keilmuan dari keluarga ulama, pengalaman panjang dalam kehidupan profesional, serta pengalaman organisasi yang kemudian mengantarkannya pada amanah nasional.

Harapannya, NU tetap menjadi organisasi yang kuat dalam tradisi sekaligus terbuka terhadap perubahan; teguh dalam prinsip tetapi mampu berdialog dengan zaman; dekat dengan pesantren sekaligus hadir di tengah persoalan masyarakat.

⚜️ Sebuah Babak Baru untuk NU

Terpilihnya KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU masa khidmat 2026–2031 menandai dimulainya babak baru dalam perjalanan Nahdlatul Ulama.

Dari Tebuireng, Gus Kikin membawa pengalaman dan tradisi panjang. Dari dunia profesional dan usaha, ia membawa pengalaman pengelolaan dan jaringan. Dari PWNU Jawa Timur, ia membawa pengalaman organisasi. Dan dari keluarga ulama, ia membawa warisan keilmuan serta tanggung jawab moral.

Kini semua bekal itu berada di bawah satu amanah yang lebih besar.

Lima tahun ke depan akan menjadi ruang pembuktian.

Bukan semata tentang siapa yang memimpin, tetapi tentang bagaimana kepemimpinan itu mampu menghadirkan manfaat bagi umat, memperkuat pesantren, mengembangkan pendidikan, memberdayakan masyarakat, menjaga tradisi keilmuan, serta membawa NU tetap relevan di tengah perubahan zaman.

Sebab pada akhirnya, jabatan dalam tradisi pesantren bukanlah mahkota untuk dibanggakan, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan.

Dan dari Tebuireng, sebuah perjalanan baru pengabdian Gus Kikin untuk Nahdlatul Ulama kini dimulai.Kalau Anda ingin, artikel ini juga bisa saya ubah menjadi versi lebih puitis dan bernuansa sejarah pesantren, lengkap dengan subjudul per bab dan pembuka yang lebih kuat seperti tulisan profil tokoh di majalah.

Penulis: Al-Faqir Edi Saputra, S.PdI.,Gr.,M.Pd.(cand).,CAU

(Dirangkum dari berbagai sumber)

#ulama 
#nu 
#pbnu 
#jombang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Dari Tebuireng Menuju Nahdlatul Ulama: Jejak Pengabdian KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), Ketua Umum PBNU 2026–2031

Dari Tebuireng Menuju Nahdlatul Ulama: Jejak Pengabdian KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), Ketua Umum PBNU 2026–2031 Sosok Kiai...