Tampilkan postingan dengan label Wirid Nusantara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wirid Nusantara. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 September 2026

Wirid Nusantara

Wirid Nusantara

Ya Allah…
Engkaulah Laut yang menampung segala arus,
dan kami hanyalah perahu-perahu kecil
yang sering tersesat oleh ombak kepentingan.

Ya Rahman…
Indonesia ini adalah sajadah raksasa,
dari Sabang sampai Merauke,
ditenun dengan benang doa para wali,
dicuci dengan air mata para syuhada.
Tapi sajadah ini kini ternodai
oleh jejak kaki yang mabuk kuasa,
oleh noda tamak yang menolak sujud.

Ya Rahim…
Gunung-gunung masih rukuk dalam keheningan,
laut-laut masih bertasbih dengan gelombangnya,
tapi manusia di atasnya sering lupa:
lupa bahwa bumi adalah masjid,
dan rakyat kecil adalah imam yang menangis di belakang.

Ya Quddus…
Di kota-kota, layar kaca menyala,
menampilkan wajah yang tersenyum palsu,
sementara di pelosok,
anak-anak masih lapar,
ibu-ibu masih menjual perhiasan terakhirnya
demi sebungkus beras.

Ya Salam…
Burung garuda masih mengepak,
tapi bulunya rontok satu per satu,
karena di dadanya,
ada pertarungan antara nurani dan ambisi,
antara kasih dan kerakusan.

Ya Ghafur…
Ampuni kami yang menjual hutan
demi koin sesaat.
Ampuni kami yang membakar ladang
sambil menutup hidung sendiri.
Ampuni kami yang mengaku merdeka
tapi masih diperbudak layar,
oleh angka-angka, oleh gengsi, oleh syahwat dunia.

Ya Fattah…
Bukalah hati kami,
agar kembali mendengar
suara azan dari langit biru Indonesia.
Bukalah mata kami,
agar bisa melihat wajah-Mu
di mata petani, nelayan, dan anak jalanan.
Bukalah jalan kami,
agar persatuan bukan hanya slogan,
tapi napas yang hidup dalam dada kami.

Ya Baqi…
Ajarkan kami dzikir pohon,
yang tetap tegak meski ditebang;
ajarkan kami dzikir tanah,
yang sabar menanggung jejak-jejak kotor manusia;
ajarkan kami dzikir hujan,
yang jatuh lembut menyuburkan
tanpa memilih ladang siapa.

Ya Nur…
Biarlah cahaya-Mu menjadi matahari baru Nusantara,
yang menyinari rumah-rumah gelap,
yang menyalakan obor keadilan,
yang menghangatkan anak-anak bangsa
agar tidak membeku dalam apatis.

Ya Haqq…
Jika negeri ini harus rebah,
biarlah rebah dalam sujud,
jangan dalam kelalaian.
Jika negeri ini harus menangis,
biarlah menangis dalam doa,
bukan dalam kelaparan yang tak dihiraukan.
Jika negeri ini harus hancur,
biarlah hancur di tangan-Mu,
bukan di tangan mereka
yang menggadaikan nurani.

Ya Wadud…
Peluklah Indonesia
dengan kasih yang tak bertepi.
Satukan denyut jutaan hati
dalam satu wirid: “Cinta adalah Indonesia,
Indonesia adalah Cinta.”


Penulis: Miftah Faqih
Disadur oleh: Edi Saputra, S.PdI.,Gr.,(M.Pd.[cand].,CAU

Dari Tebuireng Menuju Nahdlatul Ulama: Jejak Pengabdian KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), Ketua Umum PBNU 2026–2031

Dari Tebuireng Menuju Nahdlatul Ulama: Jejak Pengabdian KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), Ketua Umum PBNU 2026–2031 Sosok Kiai...