Rabu, 16 September 2026

Ngopi Isuk

Ngopi Isuk

ويح ابن آدم كيف يزهو وإنما هو جيفة يؤذي من مر به ابن آدم من ابتراب وإليه المسير (رواه الديلمى)

Ini adalah *tamparan* terhadap kesombongan manusia: tubuh yg dibanggakan berasal dari tanah, akan kembali ke tanah, dan bila ruh telah pergi, jasad yang dipuja itu justru menjadi sesuatu yang harus segera diurus.
Teks:
وَيْحَ ابْنِ آدَمَ، كَيْفَ يَزْهُو؟ وَإِنَّمَا هُوَ جِيفَةٌ يُؤْذِي مَنْ مَرَّ بِهِ. ابْنُ آدَمَ مِنَ التُّرَابِ خُلِقَ، وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ.
Pengertiannya kurang lebih: 
“Celakalah/duhai anak Adam, bagaimana mungkin ia menyombongkan diri? Padahal ia hanyalah bangkai yang akan mengganggu orang yang melewatinya. Anak Adam diciptakan dari tanah, dan kepadanya (tanah) tempat kembali.”

Ada beberapa lapis makna yang menarik dari teks di atas.

_Pertama_, كَيْفَ يَزْهُو؟  “bagaimana ia bisa berbangga dan membusungkan diri?” Kata yazhū (يزهو) bukan sekadar merasa senang, tetapi menunjuk pada kebanggaan diri yang membuat seseorang melihat dirinya “lebih”: lebih mulia, lebih berkuasa, lebih alim, lebih kaya, atau lebih berpengaruh. Pertanyaan  mendasarnya: "atas dasar apa engkau membesarkan dirimu?"

_Kedua_, وَإِنَّمَا هُوَ جِيفَةٌ merupakan pembongkaran ilusi jasmaniah. Bukan berarti Islam merendahkan martabat manusia. Justru manusia dimuliakan Allah. Yang dihancurkan adalah kesombongan yang bersandar pada tubuh, kedudukan, penampilan, dan atribut duniawi. Tubuh tanpa ruh akhirnya kehilangan segala kemegahannya.

_Ketiga_, مِنَ التُّرَابِ خُلِقَ وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ membentuk semacam lingkaran eksistensial:
تراب ← إنسان ← تراب
tanah → manusia → tanah.
Di antara dua tanah itulah manusia diberi kesempatan untuk mengisi hidupnya dengan عبودية dan خدمة: penghambaan dan khidmah. Maka yang menentukan kemuliaan itu bukan “dari apa tubuh kita”, melainkan apa yang kita lakukan selama perjalanan di antara dua tanah itu.

Dalam perspektif tasawuf, dhawuh ini lebih tajam lagi. Yang sebenarnya sedang dibunuh bukan tubuh, melainkan “aku”. Ketika seseorang berkata dalam batinnya: aku alim, aku pemimpin, aku berjasa, aku paling berhak, organisasi ini karena aku, maka dhawuh ini menjawab:
كَيْفَ يَزْهُو؟
Dengan apa engkau masih membusungkan dada?
Karena itu ia sangat dekat dengan pendidikan tawadhu‘. Bukan تذلل merendahkan martabat diri melainkan menyadari bahwa segala yang ada pada diri adalah amanah, bukan kepemilikan mutlak.
Bahkan saya menangkap satu pesan yang sangat relevan untuk kehidupan jam‘iyyah: jabatan adalah pakaian sementara, sedangkan tanah adalah tempat semua pangkat dilepaskan. Ketua, rais, kiai, pejabat, orang kaya maupun rakyat biasa akhirnya memasuki bumi dengan ukuran liang lahat yang hampir sama.
Maka dhawuh itu seakan dapat diringkas menjadi:
لا تفتخر بما سيتركك، ولكن افتخر بما يبقى لك عند الله.
Jangan membanggakan sesuatu yang kelak akan meninggalkanmu; perhatikanlah sesuatu yang tetap menjadi milikmu di sisi Allah.
Dan pada tingkat tasawuf yang lebih dalam: asal tubuh adalah tanah, tetapi arah ruh adalah Allah. Problem manusia muncul ketika ia membanggakan “tanahnya” dan melupakan perjalanan ruhnya.

Wallahu a'lam bisshawab

Kartasura, 16092026
Penulis Dr. Miftah Faqih
Pengurus PBNU

Disadur oleh: Edi Saputra, S.PdI.,Gr. (Rais Syuriah MWCNU Belalau)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ngopi Isuk

Ngopi Isuk ويح ابن آدم كيف يزهو وإنما هو جيفة يؤذي من مر به ابن آدم من ابتراب وإليه المسير (رواه الديلمى) Ini adalah *tamparan* ...